OPINI  

Covid-19 dan Ancaman Ketahanan Pangan

Masa tanggap darurat Covid-19 diperpanjang hingga 31 mei 2020. Artinya pembatasan interaksi antar penduduk di Indonesia akan diperpanjang hingga Idulfitri tahun ini. Terdapat berbagai efek yang ditimbulkan dari dibatasinya kegiatan dan kegiatan sosial. Efek langsung yang paling dirasakan setelah hampir satu bulan diterapkan physical distancing adalah berkurangnya pendapatan masyarakat.

Khususnya pedagang kecil yang biasa menjual makanannya di pinggir jalan. Hal tersebut muncul dari instruksi-instruksi yang dijelaskan oleh tenaga kesehatan untuk memutus rantai penyebaran virus corona. Yaitu dengan menjalankan pola hidup bersih dan sehat. Dan hasilnya mayoritas masyarakat saat ini lebih memilih menyediakan stok makanan mentah dirumah daripada membeli makanan jadi diluar rumah.

Hampir satu bulan social distancing diterapkan dan sebagian daerah menetapkan aturan lockdown dampaknya perlahan mulai terasa terutama dari sisi ekonomi yang mengalami pelambatan, keluhan pedagang yang mengalami penurunan pendapatan dan mulai merangkak naiknya harga makanan pokok dapat dijadikan indikator bahwa kita harus waspada dan bersiap menghadapi krisis.

Selain itu di sisi lain nilai tukar rupiah terhadap dolar terus mengalami pelemahan hingga mencapai angka 17 ribu. Meskipun begitu faktanya bukan hanya Indonesia yang mengalami keadaan tersebut. Terdapat keadaan serupa di negara lain yang juga mengalami kondisi yang hampir sama diakibatkan oleh pandemi ini

Dampak dari menurunnya pendapatan masyarakat sebenarnya dapat berimplikasi pada menurunnya daya beli. Jika harga sudah melonjak naik dan daya beli masyarakat menurun maka dihawatirkan banyak masyarakat kecil yang sulit mendapatkan akses secara finansial terhadap ketersediaan pangan pada tingkatan rumah tangga.

Cara ini sebenarnya dapat diantisipasi dengan penakekaragaman pangan yaitu masyarakat sedari awal diedukasi supaya mulai belajar mengkonsumsi bahan makanan yang bervariasi.

Tidak hanya berfokus pada konsumsi nasi dan olahan keledai saja. Namun meskipun begitu apakah pemerintah dan masyarakat sudah siap untuk melakukan konversi pangan dalam jumlah yang besar. Misalnya dari beras ke umbi-umbian. Namun lagi-lagi pertanyaannya mampukan masyarakat dengan cepat melakukan konversi pangan jika terjadi krisis.