OPINI  

Demo dan Poster Satir Seksual

Fazrian
Fazrian Noor Romadhon | Program Magister Ilmu Komunikasi Kajian Media dan Budaya Universitas Jenderal Soedirman

Fazrian Noor Romadhon
Program Magister Ilmu Komunikasi Kajian Media dan Budaya Unsoed

Demo dan Poster. Demonstrasi mahasiswa pada 11 April 2022 kemarin, menyisakan salah satu hal menarik yang penting untuk dibahas, yaitu penyampaian pesan melalui poster. Lebih menariknya lagi, di media sosial bertebaran poster-poster satir seksual yang sedang dipegang oleh para mahasiswa sambil berpose. Isi pesan satir seksual itu, ditujukan sebagai bentuk komedi atas kesewenang-wenangan pemerintah dalam banyak hal.

Dalam manajemen aksi, poster termasuk ke dalam perlengkapan demonstrasi yang penting untuk diperhatikan. Karena selain penyampaian pesan secara verbal oleh orator, pun pesan disampaikan secara nonverbal melalui poster yang dibuat sesuai dengan tujuan dan tuntutan. Dengan demikian, poster menjadi pesan pendukung orator yang bisa diabadikan.

Akan tetapi, sebagian demonstran seringkali abai dan kurang memperhatikan makna dan juga dampak dari poster yang dibuat. Pada demonstrasi 11 April kemarin, terdapat beberapa poster satir seksual yang perlu diperhatikan, seperti “Mending 3 Ronde di Ranjang Daripada 3 Periode”, “Jangan Minta 3 Ronde, Kalau 2 Ronde Saja Sudah Ngos-ngosan”,  dan “Lebih Baik Bercinta 3 Ronde Daripada Harus 3 Periode”.

Demo dan Poster
Ilustrasi Tangkapan Layar

Sekilas dari pesan di atas, terlihat biasa saja seperti poster-poster satir yang sering ditemukan disaat demo. Namun kalimat dan diksi kata yang dibangun, merujuk pada hal-hal seksual. Tidak heran, komentar yang terbangun di media sosial menilai, pesan tersebut tidak mencerminkan seseorang yang berpendidikan. Alih-alih mengkritik melalui pesan satir, yang dipertanyakan justru etika dalam pesan tersebut. Menurut Donald K. Wright, dalam mengkritik menggunakan poster atau media visual, prinsip etika, moral dan nilai tetap harus diperhatikan. Tidak asal dalam membuat.

Doing gender

Terlebih, poster satir seksual tersebut sebagian besar dipegang oleh perempuan yang berimbas menjadi komentar doing gender bahkan pelecehan seksual di media sosial, seperti “hijab-hijab binal mode-on”, “ayam kampus”, “edan, tingkahmu kayak pelacur”, dan masih banyak lagi. Terlepas, isi pesan tersebut dibuat oleh orang lain, bukan oleh orang yang sedang memegang poster tersebut, esensi demo menjadi terkotori oleh hal-hal sepele seperti ini.

Imbas selanjutnya, secara tidak langsung sedang mempermalukan diri sendiri dan almamater. Dengan berpose memegang poster tersebut sambil mengenakan jas almamater, otomatis sedang membawa diri sendiri dan almamater dalam pesan poster tersebut. Tidak heran setelah demo kemarin, terdapat mahasiswa yang dipanggil oleh pihak kampus karena fotonya yang viral membawa poster satir seksual tersebut.

Pada akhirnya, adanya poster satir dalam suatu demo merupakan hal wajar selama mengedepankan etika dalam penyampaiannya. Poster satir menjadi pendukung komunikasi nonverbal yang menjadi daya tarik dan memorable. Akan tetapi, tetap perlu diperhatikan agar esensi demo tidak terkotori oleh sebagian orang hanya karena hal-hal sepele.