Kualitas Udara Bandung tidak Sehat

  • Bagikan
Ilustrasi--pengendara motor di Kota Bandung. (Foto: kapol.id/Indri Gita Pertiwi)

KAPOL.ID–Pada 2017 Kota Bandung berhasil menyabet penghargaan sebagai kota besar dengan udara terbersih. Wali Kota Bandung kala itu, Ridwan Kamil menerima penghargaan tersebut pada acara The 4th ASEAN Environmentally Cities Award di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.

Selang empat tahun kemudian, kualitas udara Kota Bandung menurun drastis. Aplikasi Nafas mendeteksi bahwa udara Kota Bandung berapa pada urutan kedua paling tidak sehat.

Nafas sendiri merupakan aplikasi yang mampu mencatat kualitas udara pada titik-titik kota besar di wilayah Indonesia. Pengendara di Kota Bandung memberi dampak polusi terbesar bagi tingkat kesehatan masyarakat.

Media jejaring kapol.id, suara.com mengutip pernyataan Nathan Roestandy selaku Co-Founder dan CEO Nafas. Katanya, sejak awal Nafas memiliki misi terus berekspansi ke kota-kota besar di Indonesia, untuk memastikan datanya dapat diakses dan memberikan manfaat untuk setiap individu.

“Kehadiran kami di Bandung dan Surabaya merupakan langkah penting dalam merealisasikan misi tersebut. Ekspansi ini baru menjadi awal dari perluasan kami di kota-kota lainnya pada 2022,” ujar Nathan.

Di Bandung, Nafas meletakkan aplikasi titik sensor kualitas udara di wilayah Kayuambon, Sukamenak, Kertamulya, Manjahlega, dan Lagadar. Indikator yang Nafas miliki antara lain angka udara bagus antara 0 hingga 50.

Selanjutnya, antara 50 hingga 100 termasuk kategori moderat; antara 100 hingga 150 tidak sehat untuk komunitas tertentu; anatara 150 hingga 200 tidak sehat; antara 200 hingga 300 sangat tidak sehat.

“Di wilyaha Bandung Raya sendiri tercatat angka polusi udaranya mencapai 151 dan 132,” tandas Nathan.

  • Bagikan