oleh

Manaqib Sastra Ajengan Sukahideng (Resensi Novel “Cahaya Muhsin”)

Oleh Dr. Wildan Taufiq, M.Hum
Dosen Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati

Novel Cahaya Muhsin adalah sebuah kitab manâqib atau sebuah catatan penelitian antropologi agama. Sebagai kitab manaqib, keutamaan-keutamaan seorang ulama dieksplorasi secara detail mulai dari hal-hal yang supra natural seorang Ajengan (Kyai) hingga kejeniusannya dalam memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan, kendati dia hanya seorang intelektual tradisional (pesantren). Hal ini dimaklumi karena sang penulis adalah seorang seorang Kyai yang sangat memahami spiritualitas Kyai dan kepesantrenan.

Di sisi lain novel ini bisa dilihat sebagai “catatan penelitian antropologi agama”. Dalam novel ini, penulis mengungkap banyak aspek kehidupan seorang pemimpin agama (Ajengan) dengan apik hingga perasaannya yang paling dalam. Pandangan hidup serta aktifitas sang Ajengan diungkap dengan rinci dan teliti, mulai kegiatan rutinnya mengisi pengajian di pesantren, di masyarakat, aktifitasnya di ormas NU dan lembaga alim ulama MUI, hingga keterlibatannya dalam peristiwa-peristiwa besar bersejarah dalam perjuangan bangsa Indonesia ini.

Penulis novel ini adalah adalah seorang santri dari tokoh utama. Dengan begitu, pasti akan ada yang menduga bahwa novel ini ada suatu sanjungan bahkan kultus dari seorang murid kepada gurunya. Boleh saja menduga demikian. Hanya saja, sejatinya yang dimaksud penulis bukanlah demikian. Penulis bermaksud menyajikan keutamaan-keutamaan seorang Ajengan agar dijadikan uswah (keteladan) bagi santrinya secara khusus, dan bagi umat secara umum. Karena semua sudah tahu bahwa hakikatnya ulama itu adalah pewaris para Nabi dalam segala nilai-nilai keutamaannya, baik ilmu maupun akhlak.

Di antara nilai-nilai keutamaan yang ada pada novel ini adalah sebagai berikut:
Patriotisme; perjuangan Sang Ajengan melawan penjajah, baik Jepang maupun Belanda menunjukan bahwa sang Ajengan adalah seorang pejuang (mujahid) tanah air, yang siap siaga membela nusa, bangsa dan agama. Di samping itu Sang Ajengan merupakan pejuang pendidikan dengan memajukan dua pesantren sekaligus, Pesantren Sukahideng peningalan Sang ayah (KH. Zainal Muhsin) dan Pesantren Sukamanah peninggalan Sang Paman (KH. Zainal Musthafa).

Kreatifitas dan kemandirian; Sang Ajengan adalah seorang pribadi yang kreatif dan mandiri. Ia terampil membuat baju sendiri sediri untuk anak-anaknya hingga menjadi seorang penjahit profesional. Kreatifitas akan melahirkan kemandirian, baik secara mental, maupun ekonomi. Ia juga terampil membuat kincir untuk mengairi sawah kampung sekitar pesantren. Ia dikisahkan juga terampil membuat pompa hidrolik dari bambu untuk kebutuhan menimba air sumur di pesantren dan masyarakat.

Dengan demikian, Ajengan juga pesantren bukanlah kelompok masyarakat ekslusif yang hanya berfokus pada pendidikan semata, tapi juga memiliki peran sosial. Ajengan menjadi pelopor. Pelibatan para santri dalam kegiatan sosial pesantren menunjukan bahwa pembelajaran psikomotorik dipraktekan di pesantren sebagai manifestasi dari Hadits Nabi saw “Khairunnaas anfa’uhum linnaas” yang mereka pelajari di pengajian.

Aktifitas keagamaan (dakwah); Sang Ajengan adalah seorang da’i yang meneladani Wali Sanga dalam berdakwah ke kampung-kampung. Di samping itu beliau juga adalah seorang aktifis Nahdhatul Ulama (NU) dan aktif di Majlis Ulama Indonesia (MUI) dan memiliki peran penting di kedua organisasi tersebut, baik secara nasional apalagi secara lokal.
Intelektualisme; Sang Ajengan adalah seorang pemikir dan pembaharu agama kendati lahir dari tradisi intelektual tradisional (pesantren). Beliau adalah seorang ahli Tafsir, Hadits, Fiqih-Ushul Fiqih, Mantiq (logika), dan Balaghah. Pemikiran Sang Ajengan telah lebih maju dibanding ulama-ulama sezamannya.

Masalah-masalah kontemporer dan kontoversial pun tak luput dari cuplikan novel ini, seperti masalah pendaratan Apollo XI di bulan dan KB (Keluarga Berencana). Itu semua berkat beliau seorang “kutu buku” alias tukang baca yang kuat. Dengan demikian dalam batasan tertentu, beliau bisa disebut seorang “mujaddid” (pembaharu) dalam pemikiran keagaamaan.

Estetika pesantren; Sang Ajengan sangat piawai dalam menggubah nazhaman (syair-syair), baik berbahasa Sunda, Indonesia, maupun Arab. Isi dari nazhaman-nazhaman beliau itu berisi pujian kepada Nabi (ode/madah), pelajaran gramatika bahasa Arab, dan tauhid. Baginya pengajaran di pesantren tidak hanya mengembangkan aspek kognitif semata, tapi juga aspek afektif. Kompetensi yang sangat ideal bagi seorang pendidik, di samping seorang ulama ahli ilmu-ilmu agama saja, namun juga seorang sastrawan.

Pemikiran visioner; kendati lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren, Sang Ajengan memiliki pandangan yang lebih maju di dunia pendidikan. Di antara visi ke depannya adalah membuat yayasan KHZ Musthafa yang menaungi kedua pesantren, Sukamanah dan Sukahideng, mereformasi kurikulum pesantren yang disesuaikan dengan tuntutan zaman. Sang Ajengan juga merintis sekolah sebagai cabang pendidikan yang bersifat formal dari pesantren, karena menyesuaikan dengan perubahan zaman yang terus berkembang.

Spiritualisme; dengan modal laa haula wa laa quwwata illa billaah Sang Ajeng berjuang meneruskan amanah dari orang tuanya untuk memimpin pesantren. Dengan sikap ramah kepada siapa saja, termasuk kepada santrinya, pembawaan yang tenang dan sangat jarah bersikap marah (untuk tidak menyebut “tak pernah marah”), bijaksana, membantu sesama, humoris, merupakan manifestasi dari sikap ihsan Sang Ajengan dalam perjuangannya.

Hal ini karena beliau adalah sosok yang selalu melakukan ihsan, baik kepada Sang Khalik maupun kepada sesama makhluk-Nya. Maka sudah cocoklah beliau dinamai Wahhab Muhsin (Sang pemberi dan Orang baik).

Selain itu novel ini memiliki sejumlah karakteristik, diantaranya pada sejumlah bab, novel ini dimulai dengan prosa lirik. Hal ini membuat gaya bahasa novel ini menjadi lebih indah dan menggiring emosi pembaca menghayati cerita novel dengan penuh perasaan.

Kutipan kalimat-kalimat sakti mulai dari Alquran, Hadits, kata-kata mutiara secara iqtibas memberikan nuansa keagamaan atau kepesantrenan yg kental. Hal itu menunjukan bahwa setiap gerak-gerik kehidupan harus berlandaskan nilai-nilai religuis (agama).

Di samping itu juga banyak ditemukan kosa kata dari bahasa Arab di sana-sini yang sudah familier bagi kalangan santri yang tidak perlu diterjemahkan lagi. Hal ini juga yang semakin menguatkan bahwa bahasa Arab sudah jadi bahasa pesantren, dan tidak bertujuan arabisasi. Hal ini karena bahasa Arab bagi orang Indonesia maknanya lebih berkonotasi “islamisme” dari pada “arabisme”.

Sisipan “logat” (dialek) Sunda memberikan kesan setting (latar) novel ini terjadi di tanah Sunda, yaitu Tasikmalaya. Karena banyak kosa kata atau ungkapan bahasa daerah memiliki nuansa makna yang khas dan mendalam yang kadang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Banyak tuturan sang Ajengan yang berbahasa Sunda sengaja penulis tidak diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia, namun hanya di catatan kaki saja.

Dengan gaya bahasa Sunda “loma” (akrab) walau dengan santrinya, menunjukan bahwa sang Ajengan adalah seorang yang “low profile” (tawadlu’) dan akrab dengan siapapun. Dia menganggap santrinya adalah temannya. Begitulah seyogianya seorang pendidik yang memperlakukan anak didiknya sebagai “partner” dalam pendidikan. Sikap seperti ini akan mendukung terhadap kesuksesan pembelajaran di pesantren.

Jalinan sejarah hidup Sang Ajengan dengan peristiwa-peristiwa sejarah Bangsa ini menunjukan bahwa Kyai dan pesantren bukanlah sub kultur yang eksklusif atau mengisolasi diri dari dunia luar. Tapi alur sejarah Kyai dan pesantrennya adalah sejalan dengan dinamikan sejarah bangsanya. Karena NKRI berdiri karena salah satu elemen pendirinya adalah ulama.

Hampir semua judul bab menggunakan kata “cahaya” yang secara simbolik (kinayah) merujuk pada kemerdekaan bangsa, semangat perjuangan untuk menghidupkan kembali dua pesantren, Sukahideng dan Sukamanah, dinamika keilmuan dan pengabdian kemasyarakatan Sang Ajengan, hingga kembalinya kepada Sang Pemilik cahaya, Allah swt. Kata cahanya ini menjadi “benang merah” perjuangan Sang Ajengan. Hal ini menunjukan bahwa orang-orang shalih akan selalu merindukan cahaya Sang Khalik, agar menjadi petunjuk (hidayah) dalam mengarungi kehidupan ini dengan segala problematikanya.
Novel ini sejatinya merupakan sekuel dari novel biografi ulama besar sebelumnya, yaitu Syahadah Musthafa. Karena sang tokoh utama, Ajengan Adang (KH Wahhab Muhsin) merupakan pelanjut perjuang sang paman, Pahlawan Nasional, KHZ Musthafa yang telah syahid di medan pertempuran. Jadi kurang afdhal rasanya bagi pembaca buku ini, jika tidak membaca buku novel SM terlebih dahulu.
Selamat membaca !!!!

Identitas Buku:
Judul : Cahaya Muhsin (Novel Biografi KH. A. Wahab Muhsin)
Penulis : Fauz Noor Zaman
Penerbit : Sabda Book’s
ISBN :978-623-91126-6-0
Tebal : xvi + 244 halaman

Komentar