OPINI  

Milenial, Gak Mau Bertani?

Oleh Gita Wibawa Ning Putri
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Galuh

Petani merupakan pekerjaan awam, khususnya bagi masyarakat yang tinggal didaerah pedesaan. Profesi yang terbilang mudah dan sederhana, tanpa harus mengenyam bangku sekolah. Meski begitu, profesi ini juga membutuhkan keterampilan dan skill yang khusus.

Petani merupakan seseorang yang mata pencahariannya bercocok tanam. Yang mencakup semua usaha kegiatan dengan melibatkan pemanfaatan makhluk hidup untuk kepentingan manusia. Seseorang yang bergerak pada bidang pertanian yang kegiatannya memanfaatkan lahan untuk membudidayakan jenis tanaman tertentu terutama yang bersifat semusim.

Di Indonesia sendiri, umumnya para petani lebih didominasi dengan menanam padi. Padi merupakan tanaman yang dibudidaya menjadi makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Kemudian diolah menjadi beras, hingga menghasilkan nasi yang dikonsumsi setiap hari oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia sebagai sumber bahan makanan utama atau pokok.

Seiring perkembangan zaman, teknik dan cara pengolahan tanaman padi pun berganti. Dari yang awalnya tradisional atau manual beralih menjadi modern dengan penggunaan mesin. Hal tersebut tak lain karena penggunaan teknologi yang semakin canggih dari tahun ke tahun. Sebagai seorang milenial, sudah semestinya kita pun untuk tak boleh gagap akan teknologi, karena dalam kehidupan pun kita sudah hidup serba dalam teknologi.

Stigma milenial

Petani memang bukan pekerjaan yang diinginkan oleh para milenial. Petani juga bukanlah pekerjaan yang rendah, namun pekerjaan yang bermanfaat bagi banyak orang. Menyediakan dan memasok bahan-bahan makanan, seperti sayur dan buah yang dikonsumsi untuk keberlangsungan hidup manusia. Yang secara tidak langsung petani merupakan pekerjaan mulia. Tapi pada kenyataannya generasi milenial kurang menyukai bertani. Anggapan bahwa bertani hanya bekerja seperti mencangkul di sawah, panas-panasan dibawah terik matahari, itu merupakan anggapan lawas. Kita sebagai milenial yang hidup serba teknologi seharusnya dapat memanfaatkannya dengan baik.

Pertanian tidak sekadar tentang bercocok tanam di sawah. Namun kita juga dapat berinovasi dengan mengembangkan pertanian modern seperti hidroponik, pertanian organik terintegrasi, pertanian holtikultura,dll. Pertanian modern seperti inilah yang harus diperkenalkan kepada para milenial sebagai bentuk upaya untuk mengubah stigma yang negatif menjadi positif.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana jika beberapa tahun kedepan tidak ada lagi petani di negara ini. Sebab, mayoritas petani merupakan orang yang lanjut usia. Mayoritas petani yang lanjut usia tersebut tidak punya generasi penerus. Padahal melimpahnya sumber daya alam yang ada harus dapat dimanfaatkan dengan baik. Melimpahnya sumber daya alam harus sebanding dengan tingginya tingkat kualitas sumber daya manusia. Sebenarnya, anak muda bukan harus menjadi seorang petani, melainkan mengembangkan dan berinovasi untuk meningkatkan roda perekonomian negara dan peningkatan kualitas serta mutu khususnya pada sektor komoditas pertanian.

Rendahnya minat

Pertama, pekerjaan yang menguras banyak waktu dan tenaga. Petani merupakan pekerjaan yang menguras banyak waktu dan tenaga. Mulai dari prosesnya yang panjang, yaitu dari menanam hingga memanen. Yang belum tentu hasilnya akan dapat dihasilkan. Karena bisa jadi akan gagal panen. Tak jarang kejadian seperti itu sering terjadi dan banyak dirasakan oleh para petani.

Kedua, memilih peluang pada sektor lain. Orang-orang di zaman sekarang banyak menginginkan dan memilih cara yang efektif atau instan untuk menghasilkan banyak uang. Ketimbang memilih sektor pertanian yang jika dilihat memang kurang begitu menguntungkan atau menghasilkan. Namun sektor pertanian ini pun memiliki peluang masa depan yang bagus.

Ketiga, rendahnya upah yang didapat. Dari mulai menanam benih hingga memanennya, membutuhkan waktu kurang lebih selama 6 bulan. Dari prosesnya yang panjang tersebut belum pasti akan menghasilkan panen yang banyak. Jika hal buruk terjadi, yaitu gagal panen, upah yang didapatkan pun tak seberapa nilainya dibanding dengan proses panjang yang dilewati. Karena tidak ada jaminan tanaman yang dipanen dapat dipanen.

Keempat, rasa gengsi dalam masyarakat. Dikalangan para orang tua yang menjadi petani, anak-anak mereka pun diharapkan untuk tidak menjadi seorang petani. Terlebih level petani yang mungkin terbilang biasa-biasa saja.

Kelima, kurangnya ilmu tentang pertanian. Karena dengan kurangnya ilmu pengetahuan tentang pertanian menjadikan milenial malas untuk terjun langsung kedalam dunia pertanian. Ditambah lagi kurangnya minat untuk belajar tentang pertanian itu sendiri. Padahal banyak cara untuk mengakses informasi tersebut. Salah satunya dengan media sosial. Teknologi sekarang sudah canggih. Tidak perlu hanya mematok dan bersumber dari buku saja.

Dari beberapa uraian diatas, ada beberapa upaya untuk meningkatkan minat milenial. Salah satunya adalah dengan adanya program. Pemerintah sudah menciptakan yaitu dengan adanya program “Petani Milenial”. Oleh karena itu, mari kita sebagai milenial muda turut serta berpartisipasi guna untuk memajukan roda perekonomian Indonesia khusunya dalam sektor pertanian dan mampu memanfaatkan lahan serta sumber daya alam dengan baik yang telah tersedia.***