OPINI  

Peristiwa Stadion Kanjuruhan, Ungkapan Cinta Yang Perlu Diarahkan

Oleh Ilham Abdul Jabar
Instruktur PC GP Ansor Kota Tasikmalaya juga Guru Kelas Mahasiswa Pesantren Al-Hikmah Kota Tasikmalaya

Tak ada seorang pun di dunia ini yang dapat hidup tanpa cinta. Hidup tanpa cinta adalah kehidupan yang tidak bernilai. Hati yang kosong dari cinta adalah hati yang beku dan keras. Jasad yang hidup tanpa cinta adalah jasad yang hidup segan, mati tak mau.

Cinta memang tidak bisa disalahkan, karena cinta itu hinggap di hati semua orang. Namun, kita sebagai umat muslim perlulah menyalurkan kecintaan kita ini terhadap apa yang dibenarkan oleh agama.

Cinta itu berlebihan. Karena orang yang dihinggapi rasa cinta, logika dan nalarnya pun hilang. Tak ada dirinya, yang ada hanyalah yang ia cintai.

Peristiwa pilu di Stadion Kanjuruhan Malang, sebagai bukti kecintaan supporter kepada klub sepak bola yang mereka dukung.

Mereka rela meregang nyawa demi membela martabat dan nama baik klub-nya. Tidak sedikit, hingga seratus lebih dari mereka yang mati cuma-cuma dalam peristiwa itu. Miris.

Sementara, kita tahu bahwa di sisi Allah, hilangnya nyawa seorang muslim, lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia.

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455)

Saya pribadi sangat menyayangkan peristiwa ini. Nyawa seorang muslim harus hilang untuk sesuatu yang sama sekali tidak jelas.

Namun di sisi lain, kita perlu sadar bahwa itulah ekspresi cinta mereka. Itulah dampak jika rasa cinta yang berlebihan diarahkan kepada hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma agama.

Dari sinilah kita bisa bercermin, tak pantas bagi seorang Muslim mencintai apapun melebihi cintanya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara- saudara kalian, istri-istri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS at-Taubah:24)

Pandangan Islam, sepak bola itu hukumnya mubah atau boleh. Dalam artian tak ada pahala yang diraih, tak ada siksa yang diterima.

Beda halnya, jika perkara yang mubah dilakukan dengan cara yang baik. Tentu akan meraih pahala dari sisi-Nya. Namun sebaliknya, jika perkara yang mubah itu berdampak buruk, maka hukum nya akan berubah menjadi haram.

Salam Sportivitas, salam sepak bola. “Tidak ada sepak bola yang lebih berharga, dari nyawa manusia”.***