SOSIAL

Harga Pangan di Jabar Aman, Bulog Siap Jaga Stok

×

Harga Pangan di Jabar Aman, Bulog Siap Jaga Stok

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Perum Bulog Jawa Barat memastikan harga dan pasokan pangan di wilayah Jawa Barat masih dalam kondisi aman dan terkendali.

Hal tersebut disampaikan Pimpinan Wilayah Perum Bulog Jabar, Nurman Susilo, usai melakukan pemantauan langsung ke sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung, Rabu, (31/12/2025)

Pemantauan dilakukan di tiga titik, yakni Pasar Astananyar, Pasar Jogja Sunda, dan Pasar Kosambi. Kegiatan tersebut melibatkan lintas instansi, mulai dari Dinas Perdagangan, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP), BPS, Satgas Pangan, hingga unsur TNI.

“Alhamdulillah, dari hasil pantauan pagi ini, harga relatif stabil dan pasokan juga relatif stabil. Ada kenaikan di beberapa komoditas, tapi hanya satu dua saja, terutama cabai. Sementara beras, telur, daging, relatif stabil,” ujar Nurman.

Menurutnya, faktor cuaca masih menjadi variabel yang memengaruhi pergerakan harga pangan. Meski demikian, ia optimistis kondisi stabilitas pangan masih dapat terjaga dalam waktu dekat.

“Mudah-mudahan dengan kondisi cuaca sekarang, paling tidak satu sampai dua minggu ke depan masih relatif stabil,” katanya.

Nurman menegaskan, Bulog siap menjaga ketersediaan beras dan minyak goreng di pasar. Untuk minyak goreng, Bulog mendapat penugasan khusus dan akan mulai menyalurkan ke pasar-pasar pada Januari mendatang.

“Kami dari Bulog untuk beras aman. Untuk minyak goreng, insya Allah mulai Januari kita bisa masuk ke pasar-pasar,” jelasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying. Menurutnya, stok dan distribusi pangan di Jawa Barat terus dipantau secara intensif.

“Untuk masyarakat Jawa Barat, khususnya warga Bandung, jangan khawatir. Harga dan pasokan insya Allah stabil. Hampir seminggu terakhir kami turun langsung bersama dinas terkait dan Satgas Pangan, hasilnya alhamdulillah stabil,” ujarnya.

Terkait stok beras, Bulog Jabar saat ini menguasai 525 ribu ton, jumlah tertinggi sepanjang sejarah Bulog di Jawa Barat. Dengan stok tersebut, ketersediaan beras dipastikan aman hingga pertengahan tahun.

“Kalau ditanya cukup sampai kapan, insya Allah cukup sampai bulan Juni atau Juli. Bulan Februari nanti kita sudah mulai serap lagi,” kata Nurman.

Selain itu, Bulog Jabar juga telah menyiapkan tambahan kapasitas gudang hingga 200 ribu ton untuk mengantisipasi penyerapan hasil panen dan tantangan cuaca ekstrem.

“Kalaupun ada kenaikan harga akibat cuaca ekstrem, mudah-mudahan masih terkendali. Kita juga tidak bergantung pada satu wilayah, tapi bisa mengambil pasokan dari daerah lain sebagai alternatif,” jelasnya.

Dari sisi pengadaan, Bulog Jabar mencatat realisasi pengadaan beras telah mencapai 550 ribu ton atau 102 persen dari target. Tahun depan, Bulog Jabar menargetkan pengadaan hingga 800 ribu ton, dengan dukungan penuh dari TNI melalui program serapan gabah petani (sergap).

Sementara itu, Kepala DKPP Jawa Barat, Linda Al Amin, menegaskan bahwa secara umum neraca pangan Jawa Barat masih dalam kondisi surplus untuk 12 komoditas pangan strategis.

“Tidak hanya beras dan minyak, tapi 12 komoditas pangan strategis seperti bawang merah, bawang putih, cabai rawit, cabai merah, itu kalau dilihat dari neraca pangan masih surplus di Jawa Barat,” jelas Linda.

Ia menyebut fluktuasi harga merupakan hal wajar dan sangat dipengaruhi oleh selisih antara ketersediaan dan kebutuhan.

“Kalau surplusnya besar, harga cenderung turun. Tapi kalau surplusnya menipis, harga biasanya ikut naik. Itu yang terus kita jaga agar surplusnya tetap stabil,” ujarnya

Linda mengakui, komoditas yang perlu mendapat perhatian khusus saat ini adalah cabai rawit, terutama cabai rawit merah dan hijau, yang mengalami kenaikan harga di sejumlah pasar.

“Dari pantauan tadi, cabai rawit merah dan hijau harganya masih cukup tinggi. Ini yang perlu kita waspadai,” katanya.

Terkait isu gagal panen akibat cuaca, Linda mengaku belum menerima laporan resmi. Namun, informasi dari pedagang menyebutkan pasokan cabai banyak berasal dari wilayah Garut.

Untuk komoditas telur, Linda memastikan Jawa Barat masih dalam kondisi surplus dan bahkan masih menyuplai ke daerah lain.

“Telur kita surplus. Mudah-mudahan dengan kebijakan pemerintah ke depan, Jawa Barat bisa semakin fokus mencukupi kebutuhan daerah sendiri,” pungkasnya.