SOSIAL

Demi Kenyamanan Wisatawan, Pemkot Bandung Bakal Tertibkan Gelandangan Hingga Manusia Gerobak

×

Demi Kenyamanan Wisatawan, Pemkot Bandung Bakal Tertibkan Gelandangan Hingga Manusia Gerobak

Sebarkan artikel ini

KAPOL ID – Menjelang momen long weekend, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung tancap gas melakukan penataan sosial. Langkah ini diambil guna menjaga ketertiban, kenyamanan, sekaligus mempercantik wajah kota di mata wisatawan.

​Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Yorisa Sativa mengungkapkan, fenomena tunawisma yang terdiri dari gelandangan, pengemis, hingga pemulung memang menunjukkan tren peningkatan signifikan pada periode 2025 ini.

​Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah gelandangan meroket menjadi 156 jiwa dari tahun sebelumnya yang hanya 113 jiwa. Begitu pun dengan pengemis yang kini mencapai 223 jiwa dan pemulung sebanyak 57 jiwa.

​”Dari jumlah gelandangan tersebut, sebanyak 129 jiwa sudah berhasil kita jangkau melalui Unit Social Response (USR). Sisanya masih dalam pantauan,” ujar Yorisa saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (15/1/2026).

​Wajah Luar Kota Dominasi Trotoar Bandung
Menariknya, mayoritas mereka yang “mengadu nasib” di trotoar Kota Kembang ini bukanlah warga lokal. Yorisa memaparkan, dari 156 gelandangan, 125 di antaranya berasal dari luar kota seperti Kabupaten Bandung, Garut, dan Bandung Barat. Bahkan, tercatat ada 10 orang yang datang jauh-jauh dari luar Pulau Jawa.

​Setidaknya ada 20 titik rawan yang menjadi magnet bagi mereka, mulai dari kawasan Dago (Ir. H. Juanda), Jalan Merdeka, Jalan Riau, hingga kawasan ikonik Braga dan Cihampelas.

​”Kehadiran mereka di titik strategis ini kerap memicu persoalan sosial, mulai dari masalah kesehatan, gangguan ketertiban, hingga aksi mengemis secara paksa yang dikeluhkan warga dan wisatawan,” katanya.

​Operasi “Beautifikasi” dan Rehabilitasi
Sebagai langkah konkret, Pemkot Bandung bakal menggelar aksi penertiban gabungan melibatkan Satpol PP hingga kewilayahan mulai Jumat dini hari hingga Minggu besok. Sasarannya jelas: gelandangan, pengemis, dan manusia gerobak.

​Namun, Yorisa menegaskan bahwa tindakan ini bukan sekadar “gusur-menggusur”. Ada sentuhan kemanusiaan di baliknya.

​“Penanganan tidak berhenti pada penertiban. Mereka akan dibawa ke rumah singgah untuk rehabilitasi sosial dan bimbingan mental-spiritual (bimtalsik) selama tujuh hari,” tegasnya.

​Setelah dibina, Dinsos akan melakukan asesmen apakah mereka akan dipulangkan ke daerah asal, dikembalikan ke keluarga, atau dirujuk ke lembaga sosial terkait.
​Edukasi Masyarakat: Jangan Memberi di Ja lan

Yorisa menyentil faktor ekonomi yang membuat para tunawisma ini betah balik lagi ke jalanan. Penghasilan instan dari belas kasihan warga menjadi pemicu utama.

​Ia pun meminta masyarakat untuk lebih cerdas dalam menyalurkan bantuan. Memberi di jalan dinilai bukan solusi, melainkan memperpanjang rantai masalah sosial.

​“Memberi di jalan itu tidak mendidik. Kami imbau masyarakat untuk tidak memberi uang di jalanan. Mari kita jaga Bandung agar tetap bersih, tertib, dan berkesan bagi siapa saja yang datang,” pungkasnya.