KANAL

Wali Kota Bandung: Media Bukan Sekadar Penyampai Berita, Tapi Jembatan Dialog Publik

×

Wali Kota Bandung: Media Bukan Sekadar Penyampai Berita, Tapi Jembatan Dialog Publik

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Peringatan 26 tahun Elshinta News & Talk menjadi momentum refleksi tentang peran media dalam demokrasi dan kehidupan publik.

Dalam wawancara khusus di Pendopo Kota Bandung, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti pentingnya media sebagai ruang kritik, partisipasi warga, sekaligus pilar ketahanan informasi nasional.

Menurutnya, karakter masyarakat Bandung yang kritis justru menjadi energi positif bagi kepemimpinan. Kritik publik, kata dia, adalah pengingat agar pemerintah tetap waspada dan responsif.

“Bandung itu dinamis, warganya kritis. Justru kritik membuat wali kotanya tidak pernah lengah. Media seperti Elshinta berperan penting karena tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga suara dan pendapat masyarakat,” ujar Farhan pasa Selasa, 10 Februari 2026.

Ia menilai pers modern harus terus relevan sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan warga. Media tidak lagi sekadar penyampai berita, melainkan ruang dialog publik yang sehat.

Memasuki tahun pertama sebagai kepala daerah, Farhan mengakui transisi dari dunia media dan legislatif ke eksekutif bukan perkara mudah.

Ia menggambarkan kepemimpinan sebagai proses belajar yang tidak memberi kesempatan untuk mengulang kesalahan.

“Dalam kepemimpinan tidak ada remedial. Masalah harus dihadapi dan diselesaikan, tidak bisa disimpan. Semua pemangku kepentingan harus jadi bagian solusi,” ungkapnya.

Ia mengibaratkan pemimpin sebagai pihak yang harus tahan tekanan, namun tetap cermat dalam bertindak. Baginya, yang harus “diserang” bukan individu, melainkan persoalan yang dihadapi bersama.

Pengalaman panjang di dunia radio memberi keuntungan tersendiri dalam membangun komunikasi publik. Namun, Farhan mengakui adaptasi terhadap pola pikir birokrasi menjadi tantangan tersendiri.

“Saya harus memahami mindset birokrat dulu, baru bisa menjembatani komunikasi dengan media. Itu dinamika yang menarik,” katanya.

Penuls Skrip
Kecintaan Farhan pada radio telah tumbuh sejak kecil. Ia memulai karier sebagai penulis skrip di KLCBS Bandung sebelum berkembang menjadi penyiar dan pengelola program di berbagai radio nasional. Baginya, radio tetap memiliki peran strategis di tengah dominasi media digital.

“Radio punya karakter dan etika. Ini penting untuk menjaga ketahanan informasi. Di tengah arus digital yang tak terbatas, radio bisa menjadi verifikator terakhir,” jelasnya.

Ia menilai keberagaman frekuensi radio di Indonesia menjadi benteng terhadap monopoli informasi sekaligus menjaga kualitas komunikasi publik.

Di usia ke-26, Farhan berharap Elshinta terus mempertahankan reputasinya sebagai media terpercaya yang menjunjung prinsip jurnalisme, sekaligus membuka ruang partisipasi publik melalui citizen journalism.

“Partisipasi warga dalam jurnalisme adalah salah satu pilar demokrasi. Media seperti Elshinta punya peran besar dalam mendewasakan masyarakat,” ujarnya.

Menutup wawancara, Farhan menyampaikan ucapan selamat atas perjalanan Elshinta serta pesan harmoni kebangsaan.

“Selamat 26 tahun Elshinta News & Talk. Terus menjadi media yang dipercaya masyarakat dan menjaga semangat keberagaman,” katanya. (Jm)