KAPOL.ID – Implementasi skema co-firing biomassa sebagai transisi energi di Jawa Barat menuai sorotan tajam. Program yang digadang-gadang sebagai solusi pengurangan energi fosil ini dinilai justru memicu persoalan baru bagi masyarakat dan lingkungan.
Kritik tersebut mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat bersama Walhi Jabar, LBH Bandung, Trend Asia, dan Sajogyo Institute, di Kota Bandung, Rabu (22/4/2026).
Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Tedy Rusmawan mengapresiasi masukan konstruktif dari para aktivis lingkungan tersebut. Menurutnya, persoalan dampak lingkungan dari co-firing biomassa memang memerlukan perhatian serius dari pemerintah.
”Kami apresiasi teman-teman penggiat lingkungan yang sudah memberikan masukan terkait implementasi co-firing biomassa di Jabar. Ini memang perlu perhatian dari kita semua,” ujar Tedy.
Dalam pertemuan tersebut, para aktivis menilai transisi energi melalui skema biomassa pada sektor ketenagalistrikan bukanlah langkah yang tepat. Alih-alih solutif, penggunaan biomassa dianggap menambah polemik di lapangan, terutama bagi warga yang terdampak langsung di sekitar lokasi proyek.
Berdasarkan laporan yang diterima dari masyarakat, dampak negatif terhadap ekosistem dan tata kelola lingkungan mulai dirasakan. Hal inilah yang mendasari desakan agar pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh.
“Sehingga memang harus ada evaluasi terkait hal tersebut. Kami di Komisi IV sependapat dengan apa yang disampaikan teman-teman penggiat lingkungan,” tegas Tedy.
Menyikapi hal itu, Komisi IV berencana kembali menggelar RDP lanjutan. Pihaknya akan melibatkan para aktivis lingkungan untuk memberikan masukan terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) yang tengah digodok.
Langkah ini diambil guna mendorong pemerintah mengkaji ulang tata kelola lingkungan, kehutanan, dan energi dalam pelaksanaan program co-firing.
“Jika memang itu kewenangan provinsi, DPRD Jabar akan mengupayakan perubahan melalui Peraturan Daerah (Perda). Kita dorong adanya perbaikan tata kelola energi yang lebih ramah lingkungan,” pungkasnya. (Jm)












