KANAL

Warisan Lintas Generasi, Kerajinan Anyaman Bambu Jadi Penyangga Ekonomi Warga Desa Salawu

×

Warisan Lintas Generasi, Kerajinan Anyaman Bambu Jadi Penyangga Ekonomi Warga Desa Salawu

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Deru jemari yang lincah menyisip bilah-bilah bambu menjadi pemandangan galib di Kampung Cikiray, Desa Salawu, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di sini, bambu bukan sekadar tanaman pagar, melainkan denyut nadi kehidupan warga.

​Hampir di setiap teras rumah yang sederhana, terlihat warga—didominasi kaum perempuan—duduk bersimpuh. Mereka tampak khusyuk merangkai potongan bambu tipis menjadi berbagai peralatan rumah tangga, mulai dari nyiru, ayakan, boboko, hingga aseupan.

​“Di Kampung Cikiray ini, hampir seluruh warga menggantungkan hidup dari kerajinan anyaman bambu. Tradisi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan yang diturunkan lintas generasi,” ujar Nanang, salah seorang warga setempat, Minggu (26/4/2026).

​Keterampilan menganyam di kampung ini memang bukan hasil sekolah formal. Nanang mengaku, sejak kecil ia dan warga lainnya sudah akrab dengan aroma bambu dan tajamnya pisau raut. Orang tua mereka dengan sabar menurunkan ilmu “tali mambu” tersebut sebagai bekal hidup.

​Kecepatan tangan para pengrajin ini pun terbilang luar biasa. Nyaris tanpa jeda, potongan bambu yang semula kaku, dalam waktu kurang dari satu jam sudah berubah wujud menjadi nyiru yang rapi dan kokoh.

​“Saya dari kecil sudah diajarkan orang tua. Mulai dari meraut bambu sampai menganyam,” timpal Ani, pengrajin lainnya.

​Dalam sehari, rata-rata seorang pengrajin mampu menyelesaikan dua hingga tiga buah kerajinan, tergantung tingkat kerumitannya.

​”Kalau bikin nyiru atau aseupan mah sehari bisa selesai tiga. Tapi kalau boboko paling cuma dua, karena lebih sulit,” tambah Ani.
​Pemasaran Stabil

​Urusan “dapur ngebul” dari hasil anyaman ini terbilang cukup terjamin. Para pengrajin tak perlu pusing menjajakan barang ke pasar. Saban seminggu sekali, para bandar atau pengepul rutin mendatangi rumah-rumah warga untuk memborong hasil produksi mereka.

​Kepala Desa Salawu, Tatang, membenarkan bahwa sektor kerajinan ini menjadi penyangga ekonomi bagi ratusan kepala keluarga di wilayahnya.

​“Alhamdulillah, dengan adanya kerajinan ini setidaknya bisa membantu perekonomian masyarakat. Kami kira peningkatan ekonomi itu tergantung kemauan mereka dalam bekerja,” kata Tatang.

​Menurut Tatang, pasar untuk produk tradisional ini masih sangat stabil. Seberapa banyak pun hasil produksi yang dihasilkan warga, pasar selalu siap menyerap.

​”Kalau pemasaran mah stabil, seberapa banyak barang pun pasti laku,” pungkasnya (Adji Shg)