BIROKRASI

Menjemput Senja Dalam Dekapan Integritas: Jejak Langkah Terakhir Cecep Erwin di Conggeang

×

Menjemput Senja Dalam Dekapan Integritas: Jejak Langkah Terakhir Cecep Erwin di Conggeang

Sebarkan artikel ini

SUMEDANG, KAPOL.ID – Bagi sebagian besar abdi negara, hitung mundur menuju masa purna tugas sering kali dimaknai sebagai waktu untuk melambatkan derap langkah, mencari ketenangan di antara tumpukan berkas yang mulai menipis.

Namun, di ufuk pengabdiannya, Cecep Erwin Sudaryat, S.Sos., Camat Conggeang, justru memilih jalan yang sunyi namun bertenaga: memacu detak pengabdian demi menuntaskan janji kepada rakyat.

Sejak mengemban amanah pada Agustus 2025, pria berpangkat Pembina (IV/a) ini telah mengubah wajah birokrasi di Conggeang menjadi lebih manusiawi.

Ia bukan tipe pemimpin yang betah di balik sejuknya pendingin ruangan. Baginya, kebenaran tidak ditemukan di atas meja kerja, melainkan di tanah-tanah berdebu tempat rakyatnya berpijak.

Di sisa waktu hingga Desember 2026, Cecep tidak sekadar mengejar target administratif. Ia sedang memikul beban moral yang besar.

Di pundaknya, tertumpu harapan warga yang ruang hidupnya bertransformasi menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) Tol Cisumdawu dan Bendungan Cipanas.

Ia sadar betul bahwa di balik deru mesin ekskavator dan megahnya beton pembangunan, ada hak-hak warga yang terkadang terselip di celah birokrasi.

Baginya, memastikan ganti rugi lahan berjalan transparan bukan sekadar tugas dinas, melainkan sebuah pertanggungjawaban kepada Tuhan.

“Selama kepemilikan tanah tersebut dapat dipertanggungjawabkan, saya ingin semua tuntas sebelum saya pensiun. Inilah prioritas saya,” ujar Cecep dengan tatapan mata yang mencerminkan keteguhan hati yang tak goyah oleh waktu.

Kado Terindah untuk Nurani

Penyelesaian sengketa dan hak lahan warga dianggapnya sebagai “kado terindah” bagi masa purna tugasnya.

Ia tak menginginkan plakat perak atau pesta perpisahan yang mewah. Ia hanya ingin melangkah keluar dari kantor kecamatan dengan kepala tegak, meninggalkan warisan berupa senyum keadilan di wajah masyarakatnya.

Berbekal pengalaman panjang mulai dari Sekretaris Kecamatan hingga matang di Bagian Tata Pemerintahan Setda Sumedang Cecep kini menjadi jembatan yang kokoh.

Ia berdiri di tengah: menjaga kepentingan negara agar terus melaju, namun memastikan rakyat kecil tidak tergilas oleh roda kemajuan zaman.

Di bulan-bulan terakhir masa baktinya, Cecep Erwin Sudaryat memberikan sebuah pelajaran berharga tentang hakikat kepemimpinan. Bahwa jabatan hanyalah titipan, namun jejak kebaikan adalah keabadian.

Ia membuktikan bahwa integritas tidak mengenal kata jeda. Saat mentari tugasnya mulai terbenam di ufuk barat, semangatnya justru memancarkan cahaya paling terang.

Ia tidak sedang mencari pujian di akhir perjalanan, ia hanya sedang menuntaskan amanah agar esok, saat ia tak lagi memakai seragam kebanggaannya, ia tetap dikenang sebagai pembela hak rakyat di hati masyarakat Conggeang. (GUH)***