OPINI

Melampaui Mistik dan Norma Agama: Menakar Urgensi Kirab Binokasih sebagai Kompas Identitas

×

Melampaui Mistik dan Norma Agama: Menakar Urgensi Kirab Binokasih sebagai Kompas Identitas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Oleh: Teguh Safary

CATATAN Sejarah Sunda sering kali dirasakan seperti membaca sebuah novel dengan bab-bab tengah yang hilang. Di tanah di mana filosofi Silih Asah,

Silih Asih, dan Silih Asuh berakar, jejak-jejak fisik kekuasaan masa lalu terkadang tampak samar. Namun, di tengah kesamaran itu, tersisa satu benda yang melampaui logika waktu: Mahkota Binokasih Sanghyang pake.

Kehadiran Binokasih logam emas murni seberat 8 kilogram yang telah melintasi usia enam abad bukanlah sekadar pameran kemewahan material. Di mata penulis, mahkota ini adalah “sauh” yang menahan identitas Sunda agar tidak hanyut dalam arus ketidakpastian global.

Ia memberi “tubuh” pada narasi besar peradaban kita, membuktikan bahwa pernah ada sistem pemerintahan yang sangat mapan dan simbol kedaulatan yang diakui secara luas.

Keputusan untuk mengarak Mahkota Binokasih keluar dari ruang museum menuju ruang terbuka melalui prosesi kirab adalah transformasi simbolis yang radikal.

Selama berabad-abad, Binokasih adalah pusaka yang dikurung dalam sakralitas.

Namun, kirab yang melintasi delapan titik sejarah di Jawa Barat mulai dari Sumedang, Galuh, hingga berakhir di Bandung adalah upaya “menghidupkan” kembali sejarah yang selama ini beku.

Penulis secara objektif menilai bahwa kirab ini pertama-tama bertujuan menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah Sunda, khususnya bagi kalangan anak muda agar tidak kehilangan akar jati dirinya.

Satu aspek yang sangat krusial adalah dampak ekonomi kerakyatan yang muncul secara organik. Penulis mengamati bahwa pergerakan ekonomi ini tidak hanya terjadi saat kirab berada di Sumedang, melainkan merata di setiap kabupaten dan kota yang disinggahi.

Dari Kawali, Tasikmalaya, Cianjur, Bogor, Karawang, hingga Cirebon, kehadiran ribuan masyarakat yang tumpah ruah menjadi berkah nyata bagi para pedagang kecil dan pelaku UMKM lokal.

Denyut ekonomi di tingkat bawah bergerak kencang; roda perdagangan berputar seiring langkah kirab, membuktikan bahwa kebudayaan adalah mesin penggerak kesejahteraan yang inklusif.

Sejarah dan Keyakinan

Terkait adanya narasi bahwa acara tersebut berbau mistik yang terkesan bertolak belakang dengan norma agama, penulis memandang munculnya persepsi tersebut sebagai dinamika yang sah dalam ruang publik.

Namun, penulis berani menekankan dengan tegas bahwa pada dasarnya ini adalah murni acara sejarah tentang Sunda.

Kegiatan ini tidak memiliki kaitan dengan norma agama manapun; ia adalah sebuah edukasi budaya dan penghormatan atas warisan intelektual nenek moyang yang harus diletakkan pada proporsi yang tepat.

Pada akhirnya, ketika Binokasih melintas di jalanan Tatar Sunda, yang kita saksikan bukanlah sekadar emas yang berkilau. Kita sedang menyaksikan sebuah bangsa yang menolak lupa.

Binokasih adalah bukti bahwa meski istana bisa rata dengan tanah, ruh dari sebuah peradaban akan selalu menemukan caranya untuk kembali pulang selama kita memiliki keberanian untuk menjemputnya secara terhormat.***