KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Perum BULOG Kantor Wilayah Jawa Barat bersama Satgas Pangan dan Dinas Perdagangan menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Astana Anyar, Kota Bandung, Minggu (7/6/2026).
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, mayoritas harga komoditas pangan utama dinilai masih relatif stabil dan aman dari lonjakan harga yang mengkhawatirkan.
Pimpinan Wilayah Perum BULOG Kanwil Jawa Barat, Nurman Susilo menyampaikan, dari hasil menyisir sejumlah toko dan kios pedagang di Pasar Astana Anyar, komoditas penting seperti beras, bawang, hingga cabai merah terpantau tidak mengalami kenaikan harga yang signifikan.
”Tadi setelah kita berkeliling ke beberapa toko, untuk beberapa komoditi alhamdulillah harga masih relatif stabil, tidak ada kenaikan,” ujar Nurman Susilo usai memimpin jalannya sidak di Pasar Astana Anyar, Bandung, Minggu pagi.
Kendati mayoritas bapokting (barang pokok penting) aman, Nurman mencatat ada komoditas yang harganya terpantau masih cukup tinggi, salah satunya adalah daging sapi. Saat ini, harga daging sapi segar di pasar tersebut masih bertahan di angka Rp140.000 hingga Rp150.000 per kilogram.
”Untuk komoditi daging sapi memang harganya masih cukup tinggi. Nanti akan kami cek kembali harga di tingkat hulunya seperti apa, di sananya berapa. Kita akan usulkan untuk intervensi harga agar bisa sedikit turun,” ucapnya menjelaskan langkah evaluasi ke depan.
Berbanding terbalik dengan daging sapi, komoditas daging ayam dan telur justru menorehkan kabar baik karena harganya yang berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah.
Bahkan, untuk harga telur ayam saat ini dilaporkan sedang mengalami tren penurunan ke angka Rp26.000 per kilogram, disusul daging ayam di angka Rp36.000 per kilogram.
Sementara itu, untuk komoditas bumbu dapur seperti bawang merah dan putih terpantau stabil di kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Adapun untuk cabai merah segar bertengger di harga Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram
Di samping menjaga kelancaran pasokan ke pasar-pasar tradisional dan mendorong skema SP2KP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan), Perum BULOG Jabar juga gencar menggelindingkan program bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng langsung ke tengah masyarakat.
Langkah ini dinilai taktis karena secara otomatis dapat meredam pergerakan permintaan pasar secara langsung dari konsumen tingkat rumah tangga.
”Dengan adanya penyaluran bantuan pangan ini, masyarakat penerima manfaat sudah mendapatkan beras dan minyak goreng langsung. Otomatis mereka tidak perlu membeli ke pasar untuk kebutuhan satu hingga dua bulan ke depan. Harapannya, demand atau permintaan di pasar berkurang, sehingga harga tetap stabil,” kata Nurman.
Menepis kekhawatiran masyarakat di tengah dinamika ekonomi global termasuk fluktuasi nilai tukar dolar yang kian merangkak naik BULOG Jabar menegaskan komitmennya bahwa urusan isi perut warga Jawa Barat dipastikan aman.
Hingga awal Juni 2026 ini, realisasi pengadaan beras oleh BULOG Jabar telah menembus angka 590.000 ton, atau setara dengan 70 persen dari target total tahunan sebesar 700.000 ton.
”Masyarakat tidak perlu khawatir. Stok beras yang dikuasai BULOG Jabar saat ini mencapai 850.000 ton. Ini sangat cukup bahkan aman sampai dengan tahun depan. Karena stok kita melimpah, BULOG Jabar saat ini malah ikut membantu menyuplai kebutuhan provinsi lain seperti Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, hingga Kalimantan Barat,” tuturnya gamblang.
Penguatan infrastruktur pangan di tanah Pasundan juga terus dipacu. Dari program strategis nasional pembangunan 100 unit gudang BULOG baru, wilayah Jawa Barat berhasil mengamankan jatah alokasi sebanyak 6 unit gudang baru.
Adapun sebaran unit infrastruktur penyimpanan baru yang sedang dikebut pengerjaannya tersebut berlokasi di beberapa titik lumbung padi, di antaranya:
Karawang: 2 Unit
Cirebon: 2 Unit
Bandung: 1 Unit
Subang: 1 Unit
”Saat ini semuanya sedang dalam proses pembangunan. Mudah-mudahan tahun depan (2027) infrastruktur ini sudah bisa beroperasi secara optimal untuk memperkuat ketahanan pangan kita,” tambahnya.
Menyinggung soal komoditas minyak goreng subsidi, BULOG Jabar memastikan telah mendistribusikan Minyak Kita (Miki) ke berbagai pasar rakyat demi memenuhi kebutuhan konsumsi warga.
Nurman menegaskan, para pedagang yang menjual produk Miki yang disuplai dari BULOG wajib mengikuti aturan main dan menjualnya sesuai dengan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berlaku.
”Apabila di lapangan ditemukan ada pedagang yang nekat menjual di atas HET, tentunya mereka bukan bagian dari jaringan pengecer kami dan tidak disuplai oleh BULOG,” tegasnya.
Menutup keterangannya terkait isu gejolak dolar yang dikhawatirkan memicu inflasi daerah, Nurman menegaskan BULOG bersama jajaran Satgas Pangan dan TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) Jabar bakal memperketat pengawasan di rantai distribusi.
”Jika ditemukan indikasi sumbatan atau lonjakan harga sepihak di tingkat distributor maupun pedagang, pemerintah tidak akan segan mencari jalur suplai alternatif (supplier lain) agar harga pangan di Jawa Barat tetap stabil,” pungkasnya. (Jae)






