KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Tekanan ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta menurunnya daya beli masyarakat memaksa banyak keluarga menyusun ulang skala prioritas pengeluaran harian. Kerap kali, alokasi anggaran pangan menjadi korban pertama saat kondisi keuangan terimpit.
Menjawab tantangan tersebut, Forum Ngobras bersama Frisian Flag Indonesia menyelenggarakan acara media talk bertajuk “Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal” di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Kepala Lembaga Demografi sekaligus Peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), I Dewa Gede Karma Wisana, menegaskan bahwa tekanan ekonomi saat ini sangat terasa di tingkat masyarakat.
Berdasarkan data, kelompok masyarakat berpendapatan paling rendah (kuintil 1) menghabiskan hingga 63,24 persen pendapatannya hanya untuk porsi makan. Sementara kelompok berpendapatan tinggi (kuintil 5) mengalokasikan sekitar 40,54 persen.
”Makin rendah pendapatan, makin habis anggaran belanja untuk makan. Ketika terjadi penyesuaian biaya hidup, ada trade-off atau penukaran alokasi belanja,” ujar Dewa.
Dewa menambahkan, tren Data SUSENAS BPS 2024–2025 menunjukkan kenaikan belanja non-makanan justru lebih tinggi ketimbang belanja makanan harian.
Imbasnya, pola konsumsi masyarakat bergeser ke makanan yang lebih sederhana.
”Yang memprihatinkan, saat anggaran tertekan, yang dikorbankan kerap bukan porsi kalori, melainkan mutu gizinya. Porsi karbohidrat seperti beras tetap dipertahankan, namun alokasi protein seperti ikan, telur, susu, dan daging justru menyusut,” paparnya.
Dewa mengingatkan, pengorbanan kualitas gizi jangka panjang pada anak-anak dapat menurunkan kemampuan fisik dan kognitif, yang kelak berdampak pada penurunan produktivitas serta risiko biaya kesehatan yang tinggi.
Ia menyarankan masyarakat tidak terpaku pada daging sapi yang relatif mahal. Protein hewani lain seperti telur, ikan, ayam, dan susu dapat menjadi tumpuan (backbone) pemenuhan gizi harian yang jauh lebih ekonomis.
Sementara itu, Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani, S.Gz., M.Sc., menekankan pentingnya mengubah pola pikir masyarakat mengenai makanan sehat.
”Makanan sehat itu tidak harus mahal. Jangan sampai ada mindset bahwa gizi baik identik dengan bahan pangan premium seperti ikan salmon,” kata Tara.
Tara menyoroti bahwa pola konsumsi masyarakat Indonesia secara umum sudah mencukupi kebutuhan kalori, namun masih sangat didominasi karbohidrat. Variasi pangan lokal seperti umbi-umbian (kimpul) maupun beras beraneka warna bisa dijadikan alternatif pendamping nasi putih.
Terkait asupan protein, Tara mengingatkan pentingnya mengombinasikan protein nabati (tahu dan tempe) dengan protein hewani (telur dan ikan) yang memiliki asam lemak esensial lengkap dan lebih mudah dicerna oleh tubuh, terutama bagi balita.
”Susu juga menjadi pelengkap nutrisi yang sangat baik karena memiliki skor DIAAS (Digestible Indispensable Amino Acid Score) yang tinggi di atas 100 persen, artinya penyerapan nutrisinya sangat optimal oleh tubuh,” jelasnya.
Tara mengimbau masyarakat untuk berpedoman pada panduan Isi Piringku (sepertiga karbohidrat, sepertiga sayuran, seperenam protein, dan seperenam buah) serta lebih bijak memilih lauk yang padat gizi.
Komitmen Pendampingan Nutrisi Keluarga
Dalam kesempatan yang sama, Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, menyampaikan bahwa edukasi nutrisi menjadi krusial di tengah dinamika ekonomi saat ini.
”Masyarakat berada dalam situasi yang mengharuskan mereka terus mengevaluasi prioritas pengeluaran. Pengetahuan mengenai nutrisi menjadi kunci agar keluarga Indonesia tetap dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai kebutuhan,” ujar Andrew.
Melalui kampanye “Temani Langkahmu Kini dan Nanti”, Frisian Flag Indonesia berkomitmen memberikan akses serta edukasi kesehatan secara berkelanjutan agar pemenuhan gizi seimbang, termasuk konsumsi susu harian, tetap terlaksana secara optimal di seluruh lapisan masyarakat. (AM)






