KANAL

Menggugat Belenggu Penguasa: Saat Nurani Jurnalisme Menolak Dibungkam di Selasar Kampus

×

Menggugat Belenggu Penguasa: Saat Nurani Jurnalisme Menolak Dibungkam di Selasar Kampus

Sebarkan artikel ini
Foto: Istimewa-FIKOM UNPAD

Oleh: Azis Abdullah / Jurnalisme Santri

CATATAN – Di balik kilau kamera dan gemuruh warta yang setiap hari memenuhi ruang dengar publik, ada kebenaran getir yang pelan-pelan sedang mengikis urat nadi demokrasi kita: pers sedang tidak baik-baik saja.

Ketika pena jurnalis digerakkan oleh jemari kekuasaan dan suara kebenaran dikerdilkan menjadi sekadar boneka yang dituntun tali-tali oligarki, di manakah nurani jurnalisme harus berteduh?

Gelisah atas makin tajamnya cengkeraman kontrol politik terhadap independensi media, gerakan mahasiswa yang tergabung dalam Warta Muda (WM) Jatinangor bersama ruang publik kritis Rempugkeun kembali menyulut api perlawanan.

Melalui gelaran seri ke-21 yang mengusung tajuk tajam dan menggugah, “Mengurai Suramnya Pers di Bawah Kepentingan Penguasa”, forum ini hadir bukan sekadar sebagai ruang dialog biasa, melainkan sebagai altar perlawanan ideologis.

Visual poster digital yang merebak di tengah publik melukiskan cermin buram realitas hari ini, sebuah figur penguasa berjas dan berpeci yang bertindak bak dalang, dengan jemari kokoh memegang kendali atas boneka-boneka yang patuh.

Gambaran sarkastik ini menjadi tamparan keras sekaligus peringatan dini bahwa ketika pers berhenti menjadi “anjing penjaga” (watchdog) dan bertekuk lutut menjadi corong propaganda, maka yang pertama kali hancur adalah hak rakyat atas kebenaran.

Diskusi publik yang dijadwalkan berlangsung di Selasar Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran, Jatinangor, pada Rabu, 23 September pukul 16.00 WIB ini, mempertemukan keberanian intelektual muda dan integritas jurnalisme lapangan.

Menghadirkan Savri Pranata sebagai pemantik ide dan Iqbal Tawakal Lazuardi, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung.

Forum ini siap membedah secara telanjang anatomi intimidasi, komodifikasi, hingga sensor terselubung yang membayangi kerja-kerja jurnalistik di tanah air.

Penggunaan istilah kerakyatan yang egaliter seperti Pengegas dan Pembacot menggambarkan bahwa forum di kampus legendaris ini tak butuh formalitas kaku.

Ini adalah panggilan nurani bagi siapa saja mahasiswa, jurnalis, hingga elemen masyarakat sipil yang menolak pasrah melihat kebebasan pers dilelang murah di meja-meja kekuasaan.

Di tengah zaman yang makin sepi dari kejujuran, Selasar Fikom Unpad memanggil kembali jiwa-jiwa merdeka.

Sebab, membiarkan pers terus redup di bawah bayang-bayang penguasa sama saja dengan merelakan masa depan demokrasi mati dalam kegelapan. ***