KAPOL.ID— Pandemi Covid-19 ikut mengubah teknis beribadah umroh. Jamaah umroh sekurang-kurangnya menjalani tiga kali swab PCR dan sembilan hari karantina.
Keberadaan jamaah umroh di Makkah sendiri paling dua sampai tiga hari. Itupun tidak bisa mendekati area Ka’bah secara leluasa.
Beberapa hal baru dalam ibadah umroh saat pandemi Covid-19 tersebut dikemukakan oleh Zainur Rofiq, Ketua DPD Sarikat Penyelenggara Umrah Haji indonesia (Sapuhi) Jawa Barat.
“(Ibadah umroh) sangat berubah, ya. Di mana saat new normal ini karantina pertama di Indonesia, di hotel dekat bandara selama satu hari. Kemudian dites PCR,” ujar Rofiq.
Sapuhi sendiri menerbangkan jamaah umroh ke Madinah terlebih dahulu. Karena menurut Rofiq, itulah rute terbaik.
Sesampainya di Madinah, jamaah umroh tidak langsung melaksanakan ibahad. Pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan agar jamaah menjalani karantina selama tiga hari.
“Di Madinah selama lima hari. Tapi tiga harinya isolasi. Setelah itu baru bisa beribadah di Madinah selama dua hari, kemudian menuju Kota Mekkah,” lanjutnya.
Di Mekkah pun tidak lama. Jamaah bermukim di sana paling dua atau tiga hari saja. Itupun dengan protokol yang sangat ketat dan tertib.
Misalnya saja saat hendak melaksanakan tawaf atau mengelilingi Ka’bah. Jamaah umroh sangat tergantung pada jadwan yang muncul pada aplikasi.
“Masuk Ka’bah itu dijadwal: hari apa, tanggal sekian, jam sekian. Jamaah harus mengunduh dulu aplikasinya, kemudian daftar di sana. Teknisnya dibantu oleh mutowif-mutowif kita,” tambahnya.
Setelah mendapat kepastian akan jadwal tawaf, jamaah umroh memperlihatkannya kepada petugas keamanan setempat. Baru bisa masuk ke Ka’bah.
Sebelum pulang, jamaah umroh mesti menjalani swab PCR kembali. Begitupun setibanya di Indonesia. Bahkan jamaah mesti menjalani karantina kembali selama lima hari.
“Jadi, pemerintah sangat-sangat ketat untuk proses umroh di new normal ini,” tandas Rofiq.






