PENDIDIKAN

Ada “Kapal Pecah” di Bukit Akasia Gunung Geulis Sumedang

×

Ada “Kapal Pecah” di Bukit Akasia Gunung Geulis Sumedang

Sebarkan artikel ini

Sekolah Dasar Alam Bukit Akasia Terapkan Metode Kapsul Alur Permainan Bocah (Kapal Pecah)

KAPOL.ID – Belum banyak yang tahu jika di perbatasan wilayah Kecamatan Tanjungsari dan Jatinangor Kab. Sumedang, terdapat “Kapal Pecah”.

Tentu saja, keberadaannya menyedot perhatian masyarakat secara luas.

Luar biasa, karena “Kapal Pecah” tersebut ada di atas ketinggian Bukit Akasia Gunung Geulis.

Kapal pecah yang dimaksud adalah konsep belajar unik Sekolah Dasar Alam Bukit Akasia yang merupakan kependekan dari metode Kapsul Alur Permainan Bocah (Kapal Pecah).

Letak sekolah alam tersebut, memang benar-benar berada di atas bukit, punggung Gunung Geulis.

Pemandangan ke Bandung Raya terlihat menakjubkan. Jika langit tampak cerah, pusat Kota/Kab. Bandung dan Tol Cisumdawu tampak jelas.

Meski entitas utama di Bukit Akasia adalah sekolah alam, namun masyarakat umum diperbolehkan berkunjung.

Ya, untuk sekadar menikmati pemandangan atau menyantap kuliner murah di Bazar Gantoeng, kantin SDA Bukit Akasia.

Pengunjung juga bisa berkemah di beberapa lokasi yang sudah disiapkan. Pemandangan dari tempat berkemah sangat khas dan jarang terdapat ditempat lainnya.

“Sejak awal kami menyiapkan kawasan ini untuk area edukasi,” kata Kepala Sekolah SDA Bukit Akasia, Taufiq Saptoto Rohadi yang akrab disapa Abah Taufiq.

Formalnya berupa sekolah alam, non formalnya edukasi tentang lingkungan, ekonomi, dan sosial untuk masyarakat umum.

“Jadi, siapa pun dibolehkan datang, tidak dipungut biaya,” ujar dia.

Untuk sekolah alamnya pun sangat terjangkau, namun berkualitas.

Apa yang disebut sebagai Metode Kapal Pecah adalah penerjemahan dari konsep holistik integratif yang diluncurkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang.

“Berbeda dari metode klasikal umum, dalam Kapal Pecah, peserta didik setiap hari berpindah kelas tematik yang disebut Kapsul. Empat kapsul yang ada adalah Kapsul Seniman, Kapsul Ilmuwan, Kapsul Tekhnokrat dan Kapsul Pencerita,” kata dia.

Pada setiap kapsul, peserta didik belajar semua bidang studi dengan pendekatan sesuatu nama kapsul.

Misalnya, pada Kapsul Ilmuwan, semua bidang studi dipelajari dengan cara seperti seorang ilmuwan menemukan sesuatu atau membuat sesuatu.

“Dengan demikian, pembelajaran jadi menyenangkan dan tidak membosankan,” ujarnya.

Dikatakan, tidak terbatas di dalam kelas, peserta didik lebih sering menjelajah kawasan Bukit Akasia untuk memenuhi target pembelajaran dengan cara menyenangkan.

“Kami sangat percaya teori kecerdasan majemuk. Bahwa setiap anak itu cerdas. Hanya tingkat kecedasannya yang berbeda-beda,” kata dia.

Dengan Kapal Pecah, setiap anak akan percaya diri karena mereka semua bisa jadi bintang kelas di kapsul yang berbeda.

Sementara itu, Pembina Yayasan Bukit Akasia, Mohammad Martakusuma Adhyaksa mengatakan secara keseluruhan proses proyek edukasi di Bukit Akasia bermula dengan hutanisasi lahan kritis di sekitar Gunung Geulis.

Selama bertahun-tahun, pihaknya berupaya menanami lahan gundul bertanah keras itu dengan aneka jenis bibit tapi tidak terlalu berhasil.

“Baru setelah kami coba bibit Akasia, pertumbuhannya luar biasa. Dalam waktu satu tahun sudah tampak menjulang dan hijau. Sekarang rata-rata pohon akasia dua atau tiga tahu. Tapi sudah sangat rimbun dan hijau. Itulah alasannya mengapa kawasan ini kami namakan Bukit Akasia,” ujar pria yang biasa disapa Momo itu.

Penghijauan lahan kritis selama bertahun-tahun ini, lanjut Momo, penuh dengan tantangan.

Terutama dalam hal mengedukasi masyarakat. Itulah mengapa jadi sangat penting untuk terus menularkan semangat konsevasi kepada masyarakat.

Dengan adanya Kawasan Bukit Akasia, masyarakat umum yang ingin belajar seputar konservasi, perkebunan, hingga peternakan bisa datang kapan saja.

“Setelah SD Alam, Insya Allah kami akan mendirikan SMP, dan SMK Alam,” ujar Momo. (Deden)***