BUDAYA

Agak Ribet, Tidak Semua Masyarakat Kebagian Tukar Uang Receh di Singaparna

×

Agak Ribet, Tidak Semua Masyarakat Kebagian Tukar Uang Receh di Singaparna

Sebarkan artikel ini
Uang Receh
Ibu yang beruntung dapat menukarkan uang ke kas BI keliling di Singaparna. (Foto: kapol.id/Amin R. Iskandar)

KAPOL.ID — Masyarakat Kabupaten Tasikmalaya yang tinggal di sekitar Singaparna rela mengantri lama hanya untuk menukarkan uang receh. Di bawah terik matahari, Selasa (26/3/2024).

Menukarkan uang pecahan besar ke pecahan kecil memang sudah tradisi setiap bulan Ramadan. Terutama saat mendekati Hari Raya Idulfitri; dimana orang berpunya biasa bersedekah kepada keluarga, kerabat dan tetangga.

Untuk memfasilitasi masyarakat agar lebih mudah menukarkan uang, Bank Indonesia (BI) menerjunkan kendaraan kas keliling ke alun-alun Singaparna. Di sana masyarakat bisa menukarkan uang receh tanpa harus pergi ke bank.

Meskipun demikian, masyarakat tetap harus mengantri cukup lama. Di antara mereka bahkan ada yang sudah menunggu sejak pukul 08.00.

“Saya antri dari jam delapan. Sampai sekarang sudah sekitar tiga jam. Lelah sih lelah. Mana panas, saya juga lagi hamil. Sekarang belum bisa menukar uang, masih proses verifikasi,” ujar Nafisah, salah seorang warga yang hendak menukarkan uang.

BI sendiri menyediakan jasa penukaran uang lembar dengan berbagai macam pecahan. Antara lain pecahan Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000, hingga Rp 20.000. Semua uang masih baru cetak.

Sementara teknisnya, BI memberlakukan sistem pendaftaran online bagi siapa saja yang hendak menukarkan uang. Sistem inilah yang dinilai agak ribet oleh masyarakat.

Selain agak memperlambat proses penukaran uang, sistem pendaftaran online juga yang menghambat sebagian orang gagal menukarkan uang. Padahal sudah lama mengantri; sambil berpanas-panasan dan puasa.

“Sistemnya ribet. Tiap mau daftar online, gagal terus. Kalau mau tukar secara offline, malah tidak bisa. Padahal saya sudah bawa uang empat juta buat ditukar,” kata Lutfi, warga lainnya.

Ada juga seorang ibu yang membawa uang pecahan Rp 100 ribu, sebesar Rp 9 juga. Kepada kapol.id, ia menunjukkan uangnya yang terbungkus dalam kantong kresek.

“Ini téh uang. Lihat, nih! Ini téh uang. Tapi tidak laku buat tukar, karena saya offline. Padahal sudah antri dari tadi pagi, hampir empat jam. Ya sudah, saya bawa lagi pulang saja,” gerutu si ibu dengan penuh kekesalan.

Support KAPOL with subscribe, like, share, and comment

Youtube : https://www.youtube.com/c/kapoltv

Portal Web : https://kapol.tv/
Portal Berita : https://kapol.id/
Facebook : https://www.facebook.com/kabar.pol
Twiter : https://twitter.com/kapoltv