KAPOL.ID –
Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia
Tasikmalaya melakukan workshop pengelolaan sampah organik.
Peserta melibatkan kelompok wanita tani (KWT), persatuan istri pegawai Bank Indonesia (PIPEBI) dan organisasi istri instansi vertikal se-priangan timur.
“Upaya ini sebagai langkah lanjutan dari gerakan nasional pengendalian inflasi pangan. KWT sudah intens melakukan urban farming (pertanian pekarangan) untuk menekan inflasi.”
“Hari ini mendapat pembekalan tambahan pengelolaan sampah organik bekerjasama dengan No Organic Waste,” ucap Kepala Kpw BI Tasikmalaya, Aswin Kosotali, Rabu (8/12/2022).
Ia mengatakan, peran wanita di rumah tangga sangat penting dalam kesejahteraan keluarga. Serta secara lebih luas dapat berdampak pada pengendalian inflasi.
“Program KWT mendorong sisi suplainya melalui urban farming dengan budidaya sejumlah komoditi hortikultura. Kemudian dilatih agar bisa memproduksi pupuk dari sampah organik,” jelasnya.
Selain dapat memenuhi kebutuhan di KWT, Aswin mengatakan juga dapat membuka peluang ekonomi jika surplus produksi pupuk organik.
“Di sini bisa bernilai ekonomi, dan dapat mewujudkan ekonomi hijau (green economy) di daerah,” katanya.
Ia juga berharap, pelatihan pengelolaan sampah ini dapat membantu permasalahan sampah di Kota Tasikmalaya.
Inflasi telur
Di lain pihak, andil kenaikan harga telur ayam ras akhir-akhir ini terhadap inflasi cukup tinggi berdasarkan Indeks Harga Kosumen bulan Oktober tahun 2022.
Harga telur ayam di pasaran saat ini melebihi Rp 30 ribu per kilogram dari normalnya di kisaran Rp 24-27 ribu.
“Sedang ada kenaikan permintaan, sementara suplainya tidak mengikuti. Sebab bulan November-Desember ini ada peningkatan permintaan,” kata Aswin.
Ia mengatakan, kenaikan harga pakan juga memiliki pengaruh terhadap harga telur di pasaran.
Meskipun demikian pihaknya sudah mendorong peternak untuk mulai meracik pakan secara mandiri.
“Kita sudah pertemukan antara peternak dengan petani jagung di Ciamis. Karena jagung saat ini kan harga cukup tinggi dan mengandalkan impor.”
“Pakan campuran mandiri itu dapat menekan biaya produksi pakan sebesar Rp 1.000 per kilogramnya ketimbang pakan pabrikan,” katanya.***






