KAPOL.ID – Pemerintah Kabupaten Sumedang mulai tancap gas mendorong satuan pendidikan untuk lebih kreatif dalam proses belajar mengajar. Kali ini, sekolah diarahkan untuk memanfaatkan Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Palasari -Gunung Kunci serta Museum Prabu Geusan Ulun sebagai sarana pembelajaran berbasis lingkungan dan kearifan lokal.
Langkah serius ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Sumedang Nomor 6 Tahun 2026. Aturan ini menjadi payung hukum bagi sekolah untuk menjadikan aset daerah sebagai “ruang kelas” yang hidup.
Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir menyebutkan, kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur Jawa Barat terkait sembilan langkah pembangunan pendidikan menuju Gapura Panca Waluya. Selain itu, hal ini sangat relevan dengan implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Kurikulum Merdeka.
“Pembelajaran kontekstual itu tidak harus melulu di dalam kelas. Kita punya potensi daerah yang luar biasa, baik alam maupun budaya. Tahura Gunung Palasari-Gunung Kunci ini adalah laboratorium alam kita,” ujar Dony saat memberikan keterangan, Senin (19/1/2026).
Menurut Dony, selain kekayaan alam, Sumedang juga memiliki Museum Prabu Geusan Ulun yang menjadi pilar sejarah.
Menurutnya, kedua tempat ini adalah ruang belajar yang sangat efektif untuk membentuk jati diri generasi muda Sumedang.
“Anak-anak harus kenal alamnya, tahu sejarahnya, dan paham budayanya. Dari sana akan tumbuh karakter Cageur, Bageur, Bener, Pinter, tur Singer,” ucapnya
Satu hal yang ditegaskan Bupati, kegiatan pemanfaatan Tahura dan Museum ini murni untuk kepentingan edukasi, bukan sekadar jalan-jalan atau study tour yang kerap membebani orang tua.
Ia meminta pihak sekolah untuk mengintegrasikan kunjungan tersebut ke dalam kurikulum secara terencana dan sederhana.
“Ini adalah proses pendidikan. Harus terukur dan terintegrasi dengan kurikulum, bukan sekadar kunjungan rekreasi. Jadi jangan sampai memberatkan orang tua siswa,” tegas Bupati Dony.
Dalam SE tersebut, sekolah diharapkan bisa mengenalkan konservasi lingkungan, keanekaragaman hayati, hingga pengelolaan sampah di Tahura. Sementara di Museum, siswa bisa mendalami nilai-nilai perjuangan leluhur Sumedang.
”Dengan kebijakan ini, Pemkab Sumedang berharap lahir generasi yang tidak hanya cerdas di atas kertas, tapi juga memiliki kebanggaan terhadap akar budaya dan kelestarian lingkungannya sendiri.” pungkasnya (Zs)












