KAPOL.ID – Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Gaspermindo) resmi menggelar Kongres IV di Hotel Horison, Kota Bandung, Jumat (23/1/2026).
Gelaran ini menjadi momentum penting bagi organisasi untuk mempertegas komitmen dalam menghadapi hantaman disrupsi digital yang kian nyata di dunia kerja.
Ketua Panitia Kongres IV Gaspermindo, Azhar Hariman menyebutkan, tema yang diusung kali ini adalah “Inovasi dan Adaptasi Serikat Pekerja di Era Digital: Pekerja Sejahtera Indonesia Maju”.
Menurutnya, ada dua kelompok yang kini paling rentan terdampak teknologi, yakni Gen Z yang sulit mencari kerja dan pekerja milenial yang dibayangi ancaman PHK.
”Era digital mengubah segalanya. Banyak peran manusia kini digantikan AI (Artificial Intelligence). Akibatnya, lapangan kerja bagi generasi muda menyempit, sementara yang sudah bekerja malah terancam kehilangan posisinya,” ujar Azhar di sela kegiatan.
Azhar yang juga merupakan salah satu kandidat kuat Ketua Umum Gaspermindo ini memberikan contoh sederhana mengenai perubahan perilaku digital yang masif.
”Sekarang di restoran saja kasih tip sudah pakai QRIS, bukan tunai lagi. Ini bukti percepatan digitalisasi. Serikat pekerja tidak boleh diam, harus proaktif mendorong regulasi yang melindungi hak pekerja agar tidak tertinggal,” tegasnya.
Terkait bursa kepemimpinan, Azhar mengungkapkan bahwa pemilihan Ketua Umum periode mendatang diupayakan melalui jalur musyawarah mufakat demi menjaga marwah dan keharmonisan organisasi.
Saat ini, muncul dua nama kuat yang akan memperebutkan kursi nomor satu di Gaspermindo, yakni Bapak Tatang dari DKI Jakarta dan Azhar Hariman sendiri yang mewakili Jawa Barat.
”Keputusan akhir ada di tangan perwakilan basis yang punya hak suara, baik tingkat kota/kabupaten, provinsi, maupun basis dengan anggota di atas 5.000 orang. Intinya, kami kedepankan musyawarah,” tambahnya.
Secara spesifik, Azhar menyoroti peluang besar Jawa Barat di tahun 2026. Ia menilai Jabar memiliki keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain, bahkan negara tetangga, yakni surplus energi dan infrastruktur logistik yang mumpuni.
”Vietnam dan Thailand sedang krisis energi, sementara kita di Jabar pasokan listriknya sangat andal. Belum lagi keberadaan Pelabuhan Patimban yang bisa memangkas biaya logistik sampai 14 persen dibanding Tanjung Priok,” paparnya.
Kondisi ini, lanjut Azhar, terbukti dengan masuknya investasi besar dari perusahaan global seperti BYD. Ia berharap pemerintah pusat bisa jeli menangkap potensi ini agar lapangan kerja bagi masyarakat Jabar terbuka lebar.
”Kami ingin setiap pekerja punya sertifikasi keahlian. Jadi, meskipun gelombang otomatisasi datang, pekerja kita tetap punya daya saing yang tinggi,” pungkasnya (Jm)






