oleh Inu Bukhari
Wartawan KAPOL.ID
Bocor, bocor. Mungkin tagline produk tersebut hari ini sering terdengar di kalangan elit Kota Tasikmalaya.
Saya bukan membahas produk yang sering diiklankan di televisi. Melainkan mencari dalang kebocoran draf pejabat Pemkot Tasikmalaya ke publik. Informasi yang sebenarnya tidak rahasia-rahasia amat di kalangan terbatas.
Berbicara rotasi mutasi pejabat, sebenarnya tidak aneh tiba-tiba bocor. Tapi sefenomenal sekarang lengkap dengan cap dan tandatangan basah, ini luar biasa.
Saya sendiri mengerinyitkan dahi, butuh waktu berhari-hari mengumpulkan puzzle informasi. Sampai akhirnya memutuskan untuk membuat tulisan ini ketimbang membuat berita biasa.
Sebenarnya bukan di sini titik utama persoalan. Bagi pribadi, tak membaca draf pun toh saya tidak akan dilantik menjadi pejabat. Siapa gue?
Tapi bagi pejabat di internal Pemkot Tasikmalaya, seketika pertanyaan benar itu muncul.
Ungkapan saya ‘kabawa’?. Ada yang sudah jahit baju segala, atau ada yang tidak puas, merasa paling, sehingga layak untuk duduk di posisi tersebut bermunculan.
Suka atau tidak suka, jabatan sejatinya amanah bagi yang benar-benar meresapi hal tersebut. Namun ada yang bilang bisa dibeli, atau bikin kericuhan supaya duduk di posisi tersebut.
Sebagai penonton, saya hanya bisa memahami orang pasti punya pandangan berbeda. Tergantung senangnya, faktor genetik atau terdesak atas nama situasi.
Namun gambaran besar dari situasi saat ini, ada problem besar di tubuh birokrasi. Penyakit kronis menahun, atau mungkin sudah tidak dianggap penyakit karena mendarah daging.
Saat ini mendadak kambuh dan memuncak ketika mendadak situasi berubah terkait pilkada yang akan datang.
Birokrasi seakan kehilangan orientasi ruh sebenarnya. Terpapar penyakit kekuasaan, merasa paling tapi belum seberapa. Posisi harus aman, namun tak mau berkorban demi kepentingan lebih besar.
Kalau kata rekan diskusi saya, berlomba-lomba untuk menjadi penguasa tapi untuk menguasai, bukan melindungi ataupun mengayomi.
Kembali ke persoalan bocornya draf yang menjadi pintu masuk persoalan. Analisa saya, ada dua pihak yang paling dicap bocor. Karena keduanya ulu biung urusan tersebut.
Tapi pimpinan keduanya sempat sama-sama bingung dapat informasi dari luar. Lalu ada pihak ketiga, keempat atau kelima kah?
Inspektorat pun ikut turun mencari siapa yang diduga membocorkan draf tersebut. Saya berharap hasil investigasi nanti benar-benar mengungkap siapa dalang sebenarnya.
Karena draf ini bocor ke publik dalam versi digital dan bukan fotokopian, tentu banyak cara untuk melacak hal tersebut.
Kalau hasil investigasi tanpa memaparkan jejak digital, cocok menjadi sinetron di stasiun televisi swasta. Akhir cerita bakal tertebak, muncul korban dan penonton terbius dengan kekuatan peran dalang yang tak terlihat.
Hari ini pemimpin punya peran besar mengurusi penyakit ini. Pilihannya mau menjadi obat atau malah ikut merusak organ tubuh lainnya.
Setidaknya siapapun punya pilihan untuk sembuh, atau malah mau menabung penyakit lainnya kemudian hari. Karena sebagai manusia adalah dalang dari diri kita sendiri.
Kita nantikan episode selanjutnya. Wallahualam***












