BISNIS

Dilema “Emas Kuning” Nangerang: Perjuangan Pak Rosadi Menopang Jutaan Bebek di Tengah Jeratan Biaya Pakan

×

Dilema “Emas Kuning” Nangerang: Perjuangan Pak Rosadi Menopang Jutaan Bebek di Tengah Jeratan Biaya Pakan

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Di balik riuhnya suara jutaan bebek di Desa Nangerang, Kecamatan Sukasari,Sumedang tersimpan raut wajah penuh keteguhan dari seorang pria paruh baya bernama Rosadi.

Sejak tahun 2021, pria yang juga merupakan ayah dari dua anak ini telah mendedikasikan hidupnya untuk membangun ekosistem peternakan bebek petelur dan pengolahan Sampah Organik Dapur (SOD). Namun, di balik skala usaha yang terlihat raksasa, terselip realita pahit tentang tipisnya margin keuntungan yang ia bawa pulang ke rumah.

Meski mengelola populasi yang luar biasa besar, Pak Rosadi mengaku bahwa kondisi keuangan usahanya saat ini sedang berada di titik “cukup untuk bernapas”. Keuntungan yang didapat terasa sangat minim akibat melambungnya biaya produksi, terutama urusan pakan.

“Bicara keuntungan saat ini, jujur saja terasa sangat minim. Semuanya tersedot oleh biaya produksi yang tinggi. Kami belum memiliki mesin pelet sendiri, sehingga pengolahan pakan mandiri belum bisa maksimal secara efisiensi,” ungkap Rosadi kepada Kapol.id .Selasa ( 3/3/2026) dengan nada rendah namun penuh harap.

Bagi Rosadi, usaha ini bukan sekadar mengejar angka, melainkan tumpuan hidup untuk menyekolahkan kedua buah hatinya. Meski hasilnya pas-pasan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, ia tetap bersyukur rezeki tetap mengalir secara reguler melalui pelanggan telur tetapnya.

Rosadi tidak ingin selamanya hanya menjadi produsen telur mentah. Ia memiliki visi besar untuk melakukan hilirisasi melalui produksi telur asin. Namun, langkah ini tertahan oleh keterbatasan alat dan teknologi.

Tanpa mesin pelet mandiri, kemandirian pakan yang ia dambakan melalui pengolahan SOD masih setengah jalan. Pakan pelet bukan hanya soal bentuk, tapi soal efisiensi metabolisme ternak yang berpengaruh langsung pada kualitas kuning telur yang dihasilkan kunci utama lezatnya telur asin berkualitas tinggi.

Sebagai pengusaha kecil yang berjuang di garda terdepan ketahanan pangan desa, Rosadi mengetuk pintu hati pemerintah. Ia berharap ada perhatian khusus bagi para peternak lokal yang sedang berupaya naik kelas.

“Harapan kami sederhana, mohon ada perhatian dari dinas terkait untuk pengusaha kecil seperti kami. Terutama bantuan pengadaan mesin pelet. Jika biaya pakan bisa kami pangkas dengan mesin sendiri, barulah kami bisa bernapas lega dan mengembangkan produksi telur asin lebih luas lagi,” Pungkasnya.(Teguh)***