SOSIAL

Eni, 8 Tahun Hidup dalam Gubuk Sempit

×

Eni, 8 Tahun Hidup dalam Gubuk Sempit

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID—Eni. Namanya sesingkat itu. Dalam kartu tanda penduduk (KTP) miliknya memang tertulis demikian. Tinggal di Kampung Parigi, Rt 13 Rw 05, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari.

Eni lahir tahun 1970. Anak ketiga dari enam bersaudara. Selama setengah abad usianya, ia belum pernah menikah. Semenjak orangtuanya meninggal dunia, praktis ia hidup menyendiri.

Sudah delapan tahun Eni tinggal di gubuk sempit. Sejak 2012. Ia hanya punya satu-satunya ruangan berukuran (kira-kira) 2 x 1,5 meter persegi untuk tinggal. Warisan. Sepanjang hari ruangan itu tidak pernah tersapa sinar matahari.

Tempat tinggal dan tidur Eni, ukuran sekitar 2 x 1,5 meter persegi.

Untuk tidur saja, Eni tidak bisa terlentang meluruskan tubuh yang lelah bekerja seharian. Ia harus selalu tidur dengan melipat pinggul. Morongkol, demikian kata orang Sunda.

Akses menuju rumah Eni adalah gang sempit kira setengah meter. Karena memang terapit dua bangunan rumah lain. Di bagian ujung, ada dapur milik Eni, yang tidak lebih luas dari tempat tidurnya. Katanya, tanah–untuk tempat tidur dan dapur–cuma satu bata (tumbak).

“Dapur mah sudah tidak bisa dipakai memasak. Soalnya sudah pada bocor. Kalau hujan, air bergenang merendam tungku,” aku Eni.

Akses menuju tempat tinggal Eni.

Tapi Eni merasa bukan tipe orang pemalas. Ia giat bekerja sebagai buruh kasar. Terutama bekerja di sektor pertanian: mencangkul, menyiangi gulma, mengored, kuli panggul, dan pekerjaan lain yang serba mengandalkan otot.

“Kalau makan, biasanya Mang Eni beli. Tapi, kalau sedang bekerja, yang mempekerjakannya kan suka ngasih makan. Karena Mang Eni suka buburuh,” terang Sandi Nuryadi, punduh setempat.

Bagi pria yang hanya mempunyai KTP, tanpa kartu keluarga (KK), rasanya bantuan pemerintah sulit terjangkau. Bantuan yang pernah ia terima adalah pemasangan instalasi listrik dan atap dapur. Gratis.

Selain itu, aku Eni, tidak dapat bantuan apa-apa lagi. Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) juga tidak menerima.

“Dulu pernah mendapat bantuan buat atap dapur dari pemerintah. Sekarang sudah rusak lagi. Pernah juga mau ada bantuan, waktu masih ada ibu, tapi harus ada KK. Empat kali mencoba bikin KK, gagal terus. Sampai sekarang saya tidak punya KK,” ujar Eni lagi.

Meski demikian, pengakuan Sandi Nuryadi lagi, Eni adalah sosok yang sabar, pengalah, dan tidak suka perselisihan. Ia selalu menerima atas setiap keadaan yang menimpanya.

—- Support KAPOL with subscribe, like, share, and comment —-
Youtube : https://www.youtube.com/c/kapoltv

Portal Web: https://kapol.tv
Twiter : https://twitter.com/kapoltv
Facebook : https://www.facebook.com/kabar.pol
Instagram : https://www.instagram.com/kapol_id
Portal Inside : https://kapol.id/