Penjajakan itu mengemuka dalam audiensi PRSSNI dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Pendidikan Nasional UPI, Rabu (21/1/2026).
Pertemuan awal tersebut membuka ruang dialog tentang kolaborasi strategis antara dunia akademik dan industri radio siaran, khususnya dalam mendokumentasikan peran radio sebagai medium pendidikan, informasi, dan pembentuk kesadaran publik lintas generasi.
Kepala UPT Museum Pendidikan Nasional UPI, Prof. Dr. Lely Yulifar, M.Pd., menjelaskan bahwa museum yang berdiri sejak 2015 itu memiliki mandat untuk mentransformasi, melindungi, dan merawat budaya pendidikan dari masa ke masa. Dalam konteks tersebut, radio dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah pendidikan nasional.
“Museum bukan hanya ruang penyimpanan artefak, tetapi juga sumber belajar, pusat riset, dan destinasi wisata edukatif. Untuk itu, kami membutuhkan mitra strategis yang memiliki keterkaitan historis dan kultural, salah satunya radio,” kata Prof. Lely.
Ia menambahkan, radio memiliki peran historis yang kuat, termasuk dalam mempublikasikan Proklamasi Kemerdekaan dan menyebarkan informasi pendidikan kepada masyarakat luas. Karena itu, sejarah radio layak dihadirkan sebagai bagian dari narasi besar Museum Pendidikan Nasional.
Sejalan dengan itu, Ketua PRSSNI Jawa Barat, Joesoef Siregar, menilai kolaborasi ini sebagai momentum penting untuk menyelamatkan sejarah panjang radio siaran di Indonesia yang hingga kini belum terdokumentasikan secara utuh.
“Radio siaran memiliki perjalanan panjang, bahkan sejak sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Radio telah berevolusi melintasi berbagai masa, termasuk era keemasannya pada dekade 1980-an,” kata Joesoef.
Menurutnya, jejak sejarah radio yang kaya tersebut belum terarsipkan dengan baik, sehingga mendorong PRSSNI Jawa Barat untuk berinisiatif membangun museum radio sebagai ruang dokumentasi dan edukasi publik.
“Di saat yang sama, UPI juga tengah mengembangkan Museum Pendidikan Indonesia. Ini menjadi momentum yang ingin kami kolaborasikan bersama UPI dan Ekraf,” ujarnya.
Joesoef menegaskan, melalui kolaborasi tersebut, generasi muda diharapkan dapat mengenal dan memahami fungsi serta peran radio sebagai salah satu pemangku kepentingan yang turut berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sementara itu, Prof. Lely menekankan bahwa radio merupakan media yang harus terus dijaga keberlanjutannya. Ia menyebut radio sebagai “kekuatan kelima” yang memiliki keunggulan dalam membangun kedekatan emosional melalui audio dan menghubungkan masa lalu, masa kini, serta masa depan.
Ke depan, potensi kerja sama UPI dan PRSSNI Jawa Barat akan diarahkan pada pengembangan koleksi dan narasi sejarah radio, mencakup strategi penyiaran, metode komunikasi, hingga perkembangan teknologi radio dari era konvensional hingga digital.
“Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menghidupkan kembali sejarah radio, tidak hanya sebagai arsip masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran dan inspirasi bagi generasi mendatang.” pungkasnya






