KAPOL.ID–Musim penghujan dengan intensitas tinggi berpotensi memicu dua jenis bencana: pohon tumbang dan pergeseran tanah. Tentunya di samping banjir juga.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya mengaku sudah memperhitungkan potensi dua jenis bencana tersebut. Langkah antisipasi sudah dijajagi, sekalipun untuk memprediksi longsor masih terkendala keterbatasan fasilitas.
Untuk menghindari ancaman pohon tumbang misalnya, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Nuraedidin mengemukakan bahwa pihaknya sudah menginventarisir pohon-pohon besar di lokasi rawan. Antara lain di areal jalan dan dekat rumah.
“Kalau yang di pinggir jalan (pohon) itu punya pemerintah, dalam hal ini PU. Kita bekerja sama (dengan PU), berapa pohon kita tebang agar tidak ada bencana tertimpa dan lain sebagainya,” ujar Nuraedidin, Rabu (6/1/2021).
Adapun terkait pepohonan besar di sekitar rumah masyarakat, lanjut Nuraedidin, pihaknya hanya bisa sebatas memberi peringatan kepada pemiliknya. Sekaligus menyarankan penebangan pohon tersebut.
Lain halnya dengan langkah antisipasi bencana longsor. Sejauh ini di Kabupaten Tasikmalaya sudah banyak terjadi pergerakan tanah. Dalam pendataan BPBD, kasus tersebut sebagian besar berada di wilayah selatan. Seperti di Parungponteng, Cibalong, Taraju, dan Sodonghilir.
“Karena itu peningkatan kewaspadaan dari masyarakat tentu kita dorong. Karena untuk pemasangan EWS, peralatannya kita belum mempunyai. Tapi masyarakat banyak yang menggunakan kearifan lokal,” lanjutnya.
Kearifan lokal yang Nuraedidin maksud adalah mendeteksi kemungkinan terjadi longsor dengan cara menancapkan bambu atau kayu pada retakan tanah. Sehingga setiap pergerakan tanah akan selalu terpantau.
“Kalau ada pergerakan tanah, itu akan kelihatan tegakan bambu atau kayu akan miring. Masyarakat sudah banyak yang sadar ke arah sana,” tandas Nuraedidin.












