OPINI

Harkitnas di Tengah Wabah dan Bulan Penuh Berkah

×

Harkitnas di Tengah Wabah dan Bulan Penuh Berkah

Sebarkan artikel ini

Oleh Farha Millati Hanifa

Indonesia memunyai banyak sekali Hari Besar Nasional. Di bulan Mei saja ada beberapa. Tanggal 1 Mei, Hari Buruh, atau may day. Selang sehari, tanggal 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional.

Nyusul Hari Bidan dan Hari Lembaga Sosial Desa, tanggal 5 Mei. Hari Buku Nasional tanggal 17 Mei. Tanggal 20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional, biasa disingkat Harkitnas.

Di antara Hari Besar Nasional tersebut, beberapa ditetapkan sebagai hari libur nasional. Tapi, ada juga yang tidak, seperti Harkitnas, sesuai Keputusan Presiden Indonesia No. 316 tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional. Biasanya, Harkitnas diperingati dengan upacara bendera atau kegiatan lainnya di berbagai daerah di Indonesia.

Harkitnas tidak lepas dari organisasi pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya; bernama Boedi Oetomo (dibaca Budi Utomo). Organisasi ini yang melatarbelakangi, mendorong, dan menyatukan semangat nasionalisme seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk menciptakan persatuan. Akhirnya dikenal dengan semangat nasionalisme.

Boedi Oetomo sendiri dipelopori oleh para pemuda Hindia-Belanda. Di antaranya, Soetomo, dr. Tjipto Mangoenkoesomo, serta Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang lebih dikenal Ki Hajar Dewantara. Sejarah tersebut diabadikan di Museum Kebangkitan Nasional, bekas STOVIA. Lokasinya di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.

Tahun ini, Harkitnas diperingati di bulan suci Ramadan, bulan penuh berkah bagi umat Islam. Namun tentu, euforia Ramadan tidak hanya dirasakan oleh umat Muslim, melainkan juga oleh sebagian umat non-Muslim.

Harkitnas kali ini juga diperingati di tengah pandemi yang sedang mewabah di tanah pertiwi, bahkan hampir di seluruh penjuru dunia.

Lantas apa hubungannya semangat nasionalisme dengan bulan suci Ramadan? Bagaimana cara menguatkan nasionalisme di tengah pandemi?

Kita dapat melihat antusiasme masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim, yang sangat besar dalam menjalani bulan suci Ramadan. Ini sudah dapat menjadi bukti betapa rasa persatuan dan toleransi masyarakat masih tinggi.

Satu sama lain saling berbagi, dari yang punya kepada kaum yang lebih membutuhkan. Tak jarang di antara mereka terjun ke lapangan untuk memastikan semua orang memunyai makanan untuk sekedar berbuka.

Masyarakat saling merespon dan mendukung kegiatan sosial, membantu dan berpartisipasi untuk meramaikan suatu acara keagamaan yang diyakini sebagai ibadah untuk mendatangkan pahala.

Banyak lagi contoh nyata bukti dari rasa persatuan bangsa di tengah Ramadan yang penuh suka cita. Suasana dan atmosfer seperti ini, sudah bisa mencerminkan bangsa Indonesia sebagai bangsa besar yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi serta rasa persatuan yang luar biasa.

Kita akan dibuat takjub dengan kekuatan bangsa dalam menghadapi wabah dunia. Seluruh masyarakat menjadi peran penting dalam proses pencegahan penularan virus tersebut. Baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda, miskin atau kaya; tanpa memandang siapa dan dari mana mereka berasal.

Para tenaga medis berjaga di garda terdepan, menolong siapa pun yang membutuhkan. Kemudian para pengusaha yang menyumbangkan sebagian hartanya untuk korban terdampak, memastikan bahwa mereka mendapatkan makanan yang cukup selama isolasi mandiri. Public figur juga menggelar acara-acara amal untuk kemudian hasilnya didonasikan.

Orang-orang yang menahan diri untuk tidak bepergian ke kampung halamannya, juga ikut andil dalam upaya penanganan Covid-19. Kita tahu bahwa kunci keberhasilan suatu tujuan adalah kerja sama yang nyata. Saling merangkul, menggenggam, mengulurkan tangan untuk membantu; bangkit bersama dari keterpurukan.

Peran generasi muda dalam hal ini sangatlah penting. Rasa persatuan tanpa memandang daerah asal, ras, dan budaya dapat menciptakan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa. Ikatan batin yang tercipta saat wabah melanda menjadi tanda, bahwa Indonesia akan bangkit dari keterpurukannya.

Nuansa bulan suci penuh berkah juga melengkapi peringatan Harkitnas. Mari bersatu kita menuju kemenangan. Genggam erat jiwa nasionalisme, bangkit dari keterpurukan, hindari perpecahan dan pertikaian.

Bersama kita bisa. Bangkitlah Indonesia.

Penulis, Siswi MA Al-Choeriyyah Cibeas Singaparna. 

—- Support KAPOL with subscribe, like, share, and comment —-
Youtube : https://www.youtube.com/c/kapoltv

Portal Web: https://kapol.tv
Twiter : https://twitter.com/kapoltv
Facebook : https://www.facebook.com/kabar.pol
Instagram : https://www.instagram.com/kapol_id
Portal Inside : https://kapol.id/