BIROKRASI

Karpet Merah di Titik Nol Kilometer Batin: Alun-Alun Sumedang Bersolek Demi Keselamatan Pengunjung

×

Karpet Merah di Titik Nol Kilometer Batin: Alun-Alun Sumedang Bersolek Demi Keselamatan Pengunjung

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Ada yang berbeda di jantung Kota Sumedang menjelang gema takbir Lebaran tahun ini. Suara hantaman alat konstruksi dan kesibukan petugas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLHK) Kabupaten Sumedang menjadi simfoni pembuka persiapan menyambut Hari Kemenangan.

Bukan sekadar proyek rutin, pembongkaran dan perbaikan lantai batu di Alun-Alun Sumedang kali ini merupakan misi khusus: Manajemen Risiko berbalut Nostalgia.

Kepala DLHK Kabupaten Sumedang, Drs.Maman Wasman, menjelaskan bahwa langkah ini diambil sebagai respons atas keluhan masyarakat. Lantai batu yang sudah tidak rata dan permukaannya yang tidak presisi dianggap sebagai “bom waktu” di tengah kerumunan massa.

“Lantai yang sudah kasar dan tajam kerap menjadi ‘ranjau’ tersembunyi bagi pengunjung. Laporan mengenai warga yang terluka akibat tersandung atau tergores material menjadi alarm bagi pemerintah daerah,” ujar Wasman, Jumat (6/3/2026).

Menjelang Lebaran, saat ribuan pasang kaki mulai dari balita hingga lansia tumpah ruah di Alun-Alun, risiko kecelakaan kecil dapat memicu kepanikan massal. Dengan meratakan dan menghaluskan pijakan, Pemkab Sumedang seolah sedang membentangkan “karpet merah” yang aman bagi para pemudik dan wisatawan.

Magnet Nostalgia dan Titik Nol Kilometer Batin

Pasca-revitalisasi, Alun-Alun Sumedang memang telah bertransformasi menjadi magnet nostalgia. Bagi para perantau yang mengadu nasib di Jakarta, Bandung, hingga luar pulau, tempat ini adalah Titik Nol Kilometer Batin.

Alun-Alun seringkali menjadi tempat pertama yang dikunjungi untuk memvalidasi kalimat syahdu: “Kula sampun dugi ka bumi” (Saya sudah sampai di rumah).

Perbaikan ini membawa dampak psikologis dan sosial yang nyata sebagai berikut :

Anak-anak bisa bebas berlarian mengejar balon tanpa kekhawatiran orang tua akan lubang yang mengintai.

Lantai yang rapi memastikan alas kaki baru para pengunjung tetap bersih, menjaga martabat dan kegembiraan di setiap langkah.

Dengan latar Masjid Agung yang megah, lantai yang tertata akan membuat potret swafoto keluarga terlihat lebih berkelas dan layak dibagikan ke media sosial.

“Kanyaah ka Alun-alun, Kanyaah ka Sumedang”

Meski pemerintah telah bekerja keras bersolek, keindahan fisik Alun-Alun akan terasa sia-sia jika tidak dibarengi dengan keadaban pengunjung. Alun-Alun yang rapi adalah cerminan hati masyarakat yang bersih.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras petugas di lapangan, masyarakat diimbau untuk menjaga kedisiplinan. Jangan tinggalkan apa pun kecuali jejak kaki yang sopan. Satu bungkus plastik yang dibuang sembarangan adalah noda pada wajah kebanggaan bersama. Sebab, keindahan sejati bermula dari rasa memiliki dan kedisiplinan diri. (Teguh)***