KAPOL.ID – Langkah strategis diambil Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) dalam upaya memperkuat ekosistem industri kreatif di tanah air. Kali ini, Kemenekraf resmi menjalin kolaborasi dengan Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Pengurus Daerah Jawa Barat.
Kesepakatan ini lahir dalam pertemuan yang digelar di Kantor Kemenekraf, Jakarta, Rabu (14/1/2026). Kerja sama ini diproyeksikan menjadi booster bagi subsektor radio siaran dalam menjawab tantangan era digital yang kian dinamis.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kemenekraf, Agustini Rahayu menegaskan, pemerintah tidak bisa bergerak sendirian dalam memajukan industri kreatif.
Menurutnya, sinergi ini merupakan pengejawantahan konsep Hexahelix, di mana media dan asosiasi menjadi pilar utama penggerak ekonomi.
”Salah satu unsur penting dalam Hexahelix itu adalah media dan asosiasi. Radio merupakan bagian krusial dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang produknya perlu terus disosialisasikan dan dipasarkan lewat berbagai platform,” ujar Agustini.
Ia tak menampik jika saat ini industri radio tengah menghadapi tantangan besar (big challenge). Namun, ia optimistis tantangan tersebut justru bisa dikonversi menjadi peluang emas asalkan pelaku usaha mau beradaptasi.
”Sangat penting untuk open mind. Kita mesti agile (lincah) di semua perubahan. Kalau tidak, kita akan ‘tergilas’ oleh dinamika media,” tegas
Ketua Pengurus Daerah PRSSNI Jawa Barat, Joesoef Siregar menyambut antusias ajakan kolaborasi ini. Ia menilai, langkah Kemenekraf sejalan dengan semangat PRSSNI Jabar yang kini tengah bertransformasi ke arah digital.
”Ini momen yang sangat tepat, ibarat gayung bersambut. Kami di PRSSNI Jabar sedang berproses mengabdikan diri ke arah digital seiring perkembangan teknologi,” ungkap Joesoef.
Berdasarkan hasil survei yang dipaparkan dalam pertemuan tersebut, radio nyatanya masih memiliki tempat di hati masyarakat. Hanya saja, pola konsumsinya yang berubah mengikuti perkembangan zaman.
Hal inilah yang mendorong PRSSNI untuk terus memacu anggotanya melakukan migrasi teknologi.
Sebagai langkah awal, kolaborasi ini akan difokuskan di tiga wilayah representatif, yakni Jawa Barat, Yogyakarta, dan Jawa Tengah, sebelum nantinya dikembangkan secara nasional.
Joesoef pun mengajak seluruh anggota PRSSNI di Jawa Barat untuk bangkit dan bergerak bersama mengikuti arah perubahan. Ia percaya, dengan soliditas dan adaptasi teknologi yang tepat, radio akan kembali menjadi primadona
”Sebab kekuatan radio adalah kekuatan dari seluruh anggota PRSSNI. Kami optimistis, tidak tertutup kemungkinan 5 hingga 10 persen dari total anggaran iklan yang ada di televisi saat ini akan berpindah ke radio,” pungkasnya. ***






