KAPOL.ID – Ketua Fraksi PPP DPRD Jawa Barat, Zaini Shofari, menilai rencana Pemprov Jabar menghidupkan kembali geliat sepak bola harus dimulai dari wilayah terkecil.
Menurut Zaini konsep pembinaan harus menyentuh lapangan-lapangan rakyat di tiap kecamatan.
Zaini mengingatkan, dulu Gubernur sempat melontarkan gagasan satu desa satu bale kesenian. Namun untuk sepak bola, ia menilai pola paling realistis adalah satu kecamatan satu lapang.
“Setiap kecamatan pasti punya alun-alun. Di situ biasanya ada Masjid Agung, ada lapangnya. Struktur ini kan sudah ada sejak konstruksi kerajaan Mataram,” ujarnya. Di Gedung DPRD Jabar, Bandung, Senin (24/11)
Menurut Zaini, dari desa-desa, bibit pemain disaring menjadi tim terkoordinasi di kecamatan. Ia menyamakan konsep itu dengan model Jerman setelah kekalahan pada Piala Dunia 2008.
“Sejak 2008, Jerman memastikan setiap desa punya stadion. Enam tahun kemudian, 2014, mereka bisa tembus semifinal dan menghajar Brasil 7–1. Itu hasil pembinaan total dari desa,” katanya.
Zaini menyebut pola serupa pernah digagas Indra Sakti yang turun langsung ke daerah-daerah, menyaksikan talenta lokal, lalu mengumpulkannya bertahap hingga melahirkan timnas yang cukup membanggakan. “Karena tumbuh dari bawah tanpa kepentingan,” tegasnya.
Ia berharap Pemprov Jabar benar-benar mengeksekusi program ini. “Lapang-lapang jadi milik rakyat, milik bersama, milik pemain bola. Empat tahun ke depan harus terkawal dengan baik,” katanya.
Soal anggaran, Zaini menegaskan belum ada pos khusus untuk pembangunan lapang di tingkat kecamatan.
“Event ada. Tapi untuk kecamatan belum. Kami sudah bahas dengan Pak Heri, Kadispora. Baru sebatas keinginan,” ujarnya.
Meski begitu, ia membuka peluang masuknya anggaran pada perubahan 2026 untuk titik-titik prioritas.
Pemprov Jabar juga menggagas pendirian sekolah sepak bola khusus. Menurut Zaini, Kadispora menyampaikan konsep yang mirip Pelatnas PBSI Cipayung di mana para atlet tinggal, belajar, dan berlatih dalam sistem yang terpadu.
“Ini menarik. Ada pembelajaran, ada materi olahraga, semua tersusun. Awalnya mau dicoba untuk 36 orang. Harapannya lahir pemain profesional yang membawa nama Jabar,” katanya.
Lantas, idealnya pembinaan dibangun per RW atau per desa? Zaini menjawab tegas.
“Per RW jelas nggak mungkin. Per desa juga berat, karena jumlahny hampir lima ribu desa. Yang paling realistis itu Kecamatan, sekitar enam ratus kecamatan di Jabar.” tukasnya. ***








