SUMEDANG, KAPOL.ID – Di balik keindahan Alun-alun Sumedang yang asri dan kenyamanan sudut-sudut kota yang kita nikmati setiap hari, ada derap langkah kaki yang jarang terdengar dan peluh yang mengucur dalam hening.
Mereka adalah “Pasukan Kuning,” para pejuang kebersihan yang berjibaku dengan debu dan sisa buangan kota bahkan sebelum matahari menyapa ufuk timur.
Wakil Bupati Sumedang ,Fajar Aldila bersama Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir, turun langsung ke jalanan untuk memberikan pelukan hangat berupa apresiasi dan dukungan moril. Pertemuan ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan sebuah momen refleksi tentang kemanusiaan dan rasa syukur.
Dalam suasana yang penuh kekeluargaan di area Alun-alun Sumedang, Fajar Aldila tampak berbincang akrab dengan para petugas. Tidak ada sekat antara sang figur publik dengan para pekerja lapangan. Fajar menyampaikan bahwa kebersihan yang kita hirup hari ini adalah buah dari ketulusan tangan-tangan mereka.
“Kebersihan adalah cermin hati, dan bapak-ibu sekalian adalah penjaga cermin tersebut bagi kota ini,” ujar Fajar dengan nada haru,Selasa (24/3)
Sebagai bentuk nyata kepeduliannya, Fajar membagikan bingkisan kasih kepada para petugas. Namun, lebih dari sekadar materi, pesan yang ia sampaikan jauh lebih menyentuh. Ia mengingatkan agar para pahlawan kebersihan ini tidak melupakan diri sendiri di tengah pengabdian mereka.
Fajar menyadari bahwa beban kerja yang dipikul para petugas sangatlah berat. Di bawah terik matahari maupun guyuran hujan, mereka tetap setia pada sapu dan gerobaknya.
“Tolong, tetap prioritaskan kesehatan. Jika lelah, beristirahatlah sejenak. Kota ini butuh tangan bapak dan ibu, tapi bapak dan ibu juga butuh raga yang sehat untuk keluarga di rumah,” tambahnya.
Kepala DLHK Sumedang ,Drs Maman Wasman turut mengamini pesan tersebut. Baginya, Pasukan Kuning adalah garda terdepan yang menjaga martabat Sumedang. Tanpa mereka, estetika kota hanyalah bayangan yang pudar.
Momen tersebut ditutup dengan sesi foto bersama yang penuh tawa dan kehangatan. Senyum merekah di wajah para petugas, seolah rasa lelah mereka terbayar oleh pengakuan yang tulus. Acara ini mengingatkan kita pada sebuah mutiara hikmah:
“Pekerjaan paling mulia bukanlah yang paling tinggi kedudukannya, melainkan yang paling banyak manfaatnya bagi sesama dalam diam.”
Semoga langkah yang dilakukan Fajar Aldila dan Bupati Sumedang serta Kepala DLHK ini menjadi pemantik bagi kita semua untuk lebih menghargai setiap orang yang bekerja di balik layar. Sebab, keindahan sebuah kota tidak hanya dibangun dari beton dan taman, tapi dari rasa hormat kita kepada mereka yang menjaganya tetap bersih. (Teguh)***












