KANAL

KH. Sa’dulloh: Belajar di Pesantren Ibarat Membangun Rumah untuk Diri Sendiri

×

KH. Sa’dulloh: Belajar di Pesantren Ibarat Membangun Rumah untuk Diri Sendiri

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti pelaksanaan Haflah Akhirussanah Madrasah Diniyah di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah, Selasa (17/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Pesantren, KH. Sa’dulloh, menyampaikan pesan mendalam kepada para santri melalui sebuah kisah sederhana namun sarat makna.

Mengawali sambutannya, beliau bercerita tentang seorang tukang bangunan bernama Mang Udin. Sosok ini dikenal rapi, teliti, dan ahli dalam membangun. Karena keahliannya, ia dipercaya menangani berbagai proyek besar, termasuk proyek pemerintah. Namun dalam perjalanannya, Mang Udin kerap menggunakan bahan berkualitas rendah dan mengurangi takaran demi keuntungan pribadi.

Waktu terus berlalu. Mang Udin sibuk membangun banyak gedung megah, tetapi lupa membangun rumah untuk dirinya sendiri. Hingga suatu hari, sang bos memintanya membangun sebuah rumah. Seperti biasa, ia mengerjakannya dengan kualitas seadanya. Setelah selesai, sang bos berkata bahwa rumah tersebut adalah hadiah untuk Mang Udin atas pengabdiannya selama ini.

Mendengar itu, Mang Udin terdiam. Ia menyesal karena rumah yang dibangunnya dengan kualitas rendah ternyata adalah untuk dirinya sendiri.

Dari kisah tersebut, KH. Sa’dulloh mengajak para santri mengambil ibrah bahwa menuntut ilmu di pesantren sejatinya adalah proses membangun rumah kehidupan masing-masing. Apa yang dilakukan hari ini akan kembali kepada diri sendiri di masa depan.

“Kalau belajar alakadarnya, maka hasilnya pun alakadarnya. Tapi kalau sungguh-sungguh dan ikhlas, insya Allah hasilnya kokoh dan membahagiakan,” pesan beliau di hadapan para santri.

Beliau menegaskan bahwa kesuksesan tidak lahir secara instan, melainkan dari ketekunan mencintai proses. Santri diminta untuk mensyukuri dan mencintai perannya hari ini sebagai penuntut ilmu, karena dari proses itulah masa depan dibangun.

Selain itu, KH. Sa’dulloh juga mendorong para santri untuk banyak membaca sejarah orang-orang sukses sebagai motivasi. Menurutnya, ilmu adalah investasi terbaik dalam kehidupan. Banyak keluarga yang mampu bangkit dari keterbatasan karena memiliki generasi yang bersungguh-sungguh dalam belajar.

Haflah Akhirussanah tahun ini pun menjadi momentum refleksi bagi seluruh santri untuk menata niat, memperkuat semangat, dan memperbaiki kualitas ikhtiar dalam menuntut ilmu. Kisah Mang Udin diharapkan menjadi pengingat bahwa setiap proses yang dijalani hari ini sejatinya adalah bangunan masa depan yang akan ditempati sendiri.

“Mudah-mudahan cerita ini menjadi pelajaran bagi kita semua,” pungkas KH. Sa’dulloh.