Oleh Nizar Machyuzaar
Pecinta Sulap
Dalam kosmologi masyarakat Sunda yang dibangun dari kebudayaan huma/ladang, seorang pemimpin tampil sebagai restu alam, sesuatu yang terberi yang berhubungan dengan kekuatan di luar manusia.
Selain itu, ibarat kujang, sebelum menjadi seorang pemimpin, ia ditempa dalam tungku perapian bernama masyarakat sehingga pamornya muncul secara alamiah dan teruji dedikasi silih asah, asih, dan asuhnya.
Singkatnya, dengan restu Sang eMpunya Kujang, pemimpin tampil sebagai manifestasi kehadiran Tuhan di tengah masyarakat. Demikian kini kita sering mendengar mitos menunggu “Bocah Angon” atau “Ratu Adil” yang mendapat restu, cakra, atau pulung dari Sang Adi Kodrat. Demikian pula konsep “terah” atau keturunan melanjutkan garis kepemimpinan dalam masyarakat tradisional.
Namun konsepsi mitos dalam kepemimpinan pudar pamornya seiring dengan ayat “suara rakyat adalah suara Tuhan” sebagai dasar tatanan masyarakat modern. Demikian kita mengenal eksekutif, legislatif, dan yudikatif sebagai mesin struktur masyarakat modern.
Suara rakyat (koloni partai) menggantikan restu Adi Kodrat dan memuncak pada lembaga eksekutif dengan seorang pemimpin terpilih. Kontrol atas penyelenggaraan “yang mendapat restu” alias Sang Pemimpin dijalankan oleh lembaga legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat), dan kepastian jalannya “yang memerintah” sesuai dengan kesepakatan “suara rakyat” diemban lembaga yudikatif, seperti hakim, jaksa, dan polisi.
Lakon Pilkada
Orang mengatakan bahwa pemilihan pemimpin seperti pemilihan kepala daerah (pilkada) sebagai pesta demokrasi. Kemarin, di hari Rabu 9 Desember 2020, pilkada serentak di 200-an daerah tingkat II dan 9 daerah tingkat I selesai digelar. Di Kabupaten Tasikmalaya pun hajat demokrasi ini digelar.
Drama muncul manakala dalam proses penghitungan suara versi Quick Count (QC) dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Real Count (RC) dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Tasikmalaya berbeda cukup signifikan.
Sehari setelahnya (10/12/2020, Kapol.id), tulisan “Real Count versus Quick Count” dari Erlan Suwarlan memotret dinamisasi penerimaan masyarakat atas mekanisme penghitungan suara. Berlanjut ke tulisan “Sikapi QC Lembaga Survei dan RC KPU dengan Dewasa” dari Maulana Janah yang lebih mengambil sudut pandang bagaimana kita selaku masyarakat menyikapinya.
Sementara tulisan ini lebih melihat pilkada dan proses penghitungan suara dalam kacamata sebuah pementasan drama yang melibatkan pelaku-pelaku (lakon).
Tentunya, dalam sebuah pementasan drama, ada pelaku (paslon) dan tim penggarap panggung (KPU, Bawaslu, partai, timses, simpatisan, donatur, dsb). Namun, sebetulnya ada tim lain di belakang tim penggarap panggung yang tidak terlihat, yang justru menjadi penentu keberhasilan pementasan drama.
Tim ini disebut dengan tim produksi. Mirip manajem artis. Kita mengenal artis dengan kehidupannya, tetapi pihak yang memunculkan artis ini jarang terbicarakan. Bahkan, tim ini bisa berubah bentuk menjadi seperangkat aturan atau kebijakan yang memiliki agenda setting tertentu.
Hajat demokrasi pilkada serentak ini juga akan berpengaruh pada suksesi kepemimpinan di tahun 2024. Pelakon yang akan main drama di tingkat nasional tentu akan mengamankan basis suara di tingkat daerah I dan II untuk mengukur sistem distribusi kampanye dan suara.
Dari 400-an daerah tingkat 2 di Indonesia, siapa yang mampu menguasai setengah atau lebih kepala daerah, setidaknya hal ini adalah jalan untuk mengamankan suksesi pilpres 2024 semakin terbuka lebar. Ini mungkin tim produksi lakon drama yang boleh dikata adalah suprastruktur drama QC dan RC di Kabupaten Tasikmalaya dan boleh jadi di daerah lain.
Luck Count
Sampai di sini, saya teringat satu bagian pembuka novel yang cukup bagus untuk menggambarkan drama pilkada baru-baru ini. Tercerita dalam novel “Dunia Shopi” karya Jostein Gaarder (1991), seorang pesulap memeragakan satu teknik sulap. Ia angkat topi sulapnya, lalu ia bertanya pada penonton dengan bahasa tuhuhnya, lalu ia ketuk-ketukkan tongkat sulapnya, lalu muncullah seekor kelinci dari dalam topi sersebut. Dari dalam rimbunan bulu kelinci, tersebutlah seekor kutu yang heran dengan ingar bingar suara yang adalah tepuk tangan penonton sulap. Lalu, ia mencoba memanjat sebuah bulu dan sampailah ia pada ujung bulu tersebut. Betapa ia kaget melihat keriuhan dunia baru di depan pelihatannya.
Apa yang dapat kita katakan jika seekor kutu itu adalah kita, adalah saya, adalah Anda, adalah dia yang kita sebut paslon, partai, KPUD, Bawaslu, timses, lembaga eksekutif, lembaga legislatif, lembaga yudikatif, dsb.
Kisah kita saat ini seperti seekor kutu yang menyerupai keberuntungan yang sebetulnya hanya teknik sulap seorang pelakon di panggung. Akhirnya, saya mengucapkan selamat bagi yang menang. Anda beruntung kali ini.***












