KAPOL.id – Ada yang berbeda dari riuhnya suasana Ramadan di Dusun Ciwindu tahun ini. Di saat sebagian orang memilih beristirahat sembari menunggu azan magrib, warga Kelompok Belajar Ciwindu justru sedang asyik “bermain” dengan ketajaman pisau dan lenturnya bilah bambu.
Melalui inisiasi PKBM Tarbiyatul Ummah, sebuah gerakan kreatif lahir di Lingkungan Kelompok Sirnamulya: Pelatihan Pembuatan Bongsang Tahu. Sebuah upaya nyata mengubah kearifan lokal menjadi kemandirian ekonomi.
Bukan Sekadar Wadah, Tapi Warisan
Suara gesekan bambu dan aroma khas serat kayu yang segar menjadi saksi betapa antusiasnya para peserta. Mereka tidak hanya belajar menganyam, tapi sedang merajut masa depan. Sosok di balik layar gerakan ini, Ai Sumiati, S.Pd., menjelaskan bahwa pilihannya jatuh pada Bongsang—wadah ikonik Tahu Sumedang karena nilai filosofis dan pasarnya yang tak pernah mati.
“Ramadan adalah momentum terbaik untuk menjemput berkah secara menyeluruh. Kami ingin ibadah spiritual berjalan beriringan dengan ibadah ekonomi,” ungkap Ketua PKBM, Ai Sumiati dengan mata berbinar, Minggu (8/3/2026).
Ai mengatakan, bongsang adalah identitas Sumedang. Kami ingin warga Ciwindu menjadi aktor utama dalam industri kreatif ini, bukan sekadar penonton di rumah sendiri.
Kegiatan yang digagas oleh Ai Sumiati ini membawa tiga misi utama bagi kemaslahatan warga diantaranya ;
Memastikan seni menganyam bambu tetap lestari dan tidak tergilas oleh zaman yang serba plastik.
Membekali kelompok Sirnamulya dengan skill mumpuni agar mampu menciptakan peluang usaha sendiri.
Mengubah waktu luang saat berpuasa menjadi aktivitas bernilai ibadah yang juga berpotensi menambah saldo kantong.
Pelatihan ini tentu menjadi bukti nyata bahwa di tangan yang kreatif, bambu sederhana bisa naik kelas menjadi barang bernilai jual tinggi. Di bawah bimbingan PKBM Tarbiyatul Ummah, warga Ciwindu kini siap menyongsong hari raya dengan keahlian baru dan semangat kemandirian yang menggebu. (Teguh)***






