SUMEDANG, KAPOL.ID – Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian dinamis, sebuah oase ketenangan terpancar dari balik dinding Pondok Pesantren Internasional Terpadu Asy-Syifaa Wal Mahmuudiyyah di Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Bukan sekadar tempat menimba ilmu, pesantren ini menawarkan sebuah falsafah hidup yang mendalam: bahwa mendidik bukan tentang menaklukkan logika, melainkan tentang menyentuh jiwa dengan kasih sayang.
Sentuhan Kasih, Senyum yang Mendidik
Dalam sebuah bincang hangat dengan Forum Komunikasi Wartawan Sumedang (FORKOWAS), Abuya Prof. Dr.(H.C.) KH. Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi, MA sang pengasuh, membocorkan “rahasia dapur” keberhasilan mendidik para santri. Abuya menyebutkan konsep 2M sebagai fondasi utama. Kunci pertama adalah kasih sayang yang tulus.
“Anggaplah mereka itu anak kandung kita sendiri. Sebandel-bandelnya anak, tetaplah ia bagian dari hati kita,” tutur Abuya dengan nada bicara yang lembut dan menyejukkan.
Menurut Abuya, pendekatan ala militer atau kekerasan tidak memiliki tempat dalam proses penyemaian karakter. Sebaliknya, sapaan yang santun dan senyum yang manis adalah jembatan terbaik agar seorang santri memahami kebenaran bukan karena rasa takut, melainkan karena kesadaran hati.
Doa sebagai Energi Spiritual
Kunci kedua yang tak kalah krusial adalah kekuatan doa. Di Asy-Syifaa, doa bukan sekadar pelengkap, melainkan ijazah spiritual yang diberikan kepada santri sejak hari pertama.
Tujuannya satu: agar Allah membukakan pintu-pintu pemahaman sehingga ilmu yang sulit sekalipun menjadi terasa ringan dan berkah.
Akhlak di Atas Segalanya
Sebuah pesan tajam namun disampaikan dengan santun terlontar dari Abuya mengenai prioritas pendidikan. Baginya, kepintaran tanpa adab adalah sebuah musibah.
“Jangan sampai kita melahirkan ustadz atau ustadzah yang hebat bicaranya, tapi cacat akhlaknya. Hal itu justru akan menjadi masalah besar bagi umat,” tegas Abuya.
Itulah sebabnya, para pengajar di sini memiliki tugas khusus untuk memantau perilaku santri secara detail, memastikan bahwa cahaya ilmu selaras dengan keluhuran budi pekerti.
Mempersiapkan Pemimpin yang Percaya Diri
Tak hanya urusan batin, santri Asy-Syifaa juga ditempa untuk menjadi orator yang handal. Melalui latihan ceramah rutin dua kali seminggu dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab, santri dilatih untuk memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
Harapannya, saat kembali ke masyarakat nanti, mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pemimpin yang mampu memberikan solusi nyata bagi bangsa.
Visi Besar: Menuju “Baldatun Toyyibatun”
Menutup perbincangan, Abuya menyampaikan visi besarnya untuk menyatukan elemen masyarakat yang seringkali terkotak-kotak oleh kepentingan politik maupun golongan. Melalui penguatan ukhuwah (persaudaraan), beliau berharap kehadiran para santri lulusan Asy-Syifaa dapat menjadi perekat bagi kemajuan negara.
“Ujungnya adalah bagaimana kita menciptakan kehidupan yang thoyyibah, kehidupan yang baik dan penuh dengan ampunan serta keberkahan dari Allah SWT,” pungkasnya dengan penuh harapan. ***












