OPINI

OASE DI TEPI ALUN-ALUN: Mengenang “Rumah Kedua” Jurnalis Sumedang

×

OASE DI TEPI ALUN-ALUN: Mengenang “Rumah Kedua” Jurnalis Sumedang

Sebarkan artikel ini

Oleh: Teguh Safary

Ada satu masa ketika denyut informasi di Sumedang tidak dimulai dari denting notifikasi WhatsApp atau rilis resmi di kanal media sosial pemerintah.

Satu dekade lalu, tepat di bawah payung pohon-pohon besar yang mengepung Alun-Alun Sumedang, sebuah warteg sederhana berdiri bukan sekadar sebagai pelepas lapar. Bagi para “kuli tinta” era 2011–2016, kedai itu adalah pusat gravitasi; sebuah kantor kedua sekaligus tempat isu-isu panas daerah digodok sebelum akhirnya naik cetak.

Memandang fragmen foto dari masa itu adalah melihat sebuah otentisitas yang mulai langka. Sosok pria dengan distressed baseball cap di barisan depan menjadi simbol gaya lapangan yang tak lekang oleh waktu.

Topi dengan bordir besar itu bukan sekadar pelengkap busana, melainkan “seragam tempur” wajib. Di bawah terik matahari Sumedang yang menyengat, topi itulah pelindung utama saat mereka setia berjaga, menunggu narasumber keluar dari gedung pemerintahan.

Lebih dari sekadar tempat makan, warteg di tepian Alun-alun ini adalah “rumah kedua”.

Di sinilah, di tengah kepulan asap rokok dan aroma kopi hitam, para pewarta menanggalkan sejenak beban deadline. Gelas-gelas kaca berisi teh hangat menjadi saksi bisu tempat mereka mencurahkan segala suasana hati,mulai dari duka saat berita sulit ditembus, hingga suka cita saat berhasil mengungkap fakta.

Alun-alun menjadi titik temu para pencari berita yang didominasi awak surat kabar mingguan dan sebagian pewarta harian, baik lokal maupun nasional.

Solidaritas antar jurnalis ditempa di sini, jauh sebelum era digital yang serba cepat merenggangkan interaksi fisik. Jurnalisme saat itu adalah tentang kehadiran, tentang “penciuman” di lapangan, dan tentu saja, tentang kehangatan di atas meja kayu yang sudah reyot

Lokasi berkumpul yang tepat berada di depan Gedung Rakyat (DPRD) ini sering kali menjadi panggung komedi spontan. Jika sudah berkumpul, selalu saja ada celah untuk memecah suasana capai atau ketegangan liputan menjadi gelak tawa yang membahana.

Seringkali, di tengah asyiknya menyantap hidangan atau sekadar melepas penat, suasana pecah oleh celetukan kawan sejawat.

Tiba-tiba saja salah satu pewarta berteriak sambil menunjuk ke arah gedung, “Tuh tuh aya kaluar! Tuh gewat atuh lain kalah dahar wae!” (Tuh tuh ada yang keluar! Tuh cepat, jangan malah makan terus!).

Cetusannya kepada rekan lain itu seketika mengundang tawa, sekaligus membangkitkan kembali naluri “pemburu” untuk segera bangkit mengejar narasumber yang baru saja menampakkan diri.

Kini, wajah Alun-alun Sumedang telah bersalin rupa. Revitalisasi besar-besaran mengubah wajah kota menjadi lebih modern, terbuka, dan estetik.

Namun, ada harga yang harus dibayar: pohon-pohon rindang yang dulu memberi keteduhan alami kini tinggal sejarah. “Hutan kota” yang dulu melindungi para intelektual jalanan ini telah hilang termakan deru pembangunan.

Meskipun fisiknya telah berubah, kenangan tentang “basecamp” tersebut tetap abadi bagi mereka yang pernah mencicipi pahit-manisnya mencari berita dengan peluh. Tulisan ini bukan sekadar romansa masa lalu, melainkan sebuah catatan kecil tentang sejarah pers lokal.

Perubahan fisik kota memang membawa kemajuan, namun “nyawa” dari interaksi para kuli tinta di bawah rindang pohon itu adalah bagian dari identitas Sumedang yang tak boleh dilupakan. Di sana, informasi digali bukan dari layar kaca, melainkan dari hati yang saling berbagi. ***