KANAL

Pemkot Genjot Program ‘Gaslah’ di Ribuan RW

×

Pemkot Genjot Program ‘Gaslah’ di Ribuan RW

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung resmi menghentikan seluruh operasional pengolahan sampah berbasis teknologi termal atau insinerator di Tempat Penampungan Sementara (TPS).

​Langkah tegas ini diambil menyusul adanya temuan dari Kementerian Lingkungan Hidup yang menyatakan hasil uji emisi dari mesin-mesin pembakar sampah tersebut melampaui ambang batas yang ditentukan.

​Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 DLH Kota Bandung, Salman Faruq, membenarkan hal tersebut.

Menurutnya, langkah ini merupakan tindak lanjut dari instruksi pemerintah pusat.

​“Hasil uji emisi dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan ambang batasnya melebihi ketentuan. Karena itu, Ibu Menteri menerbitkan surat pada 19 Januari untuk menghentikan seluruh pengolahan sampah teknologi termal di Kota Bandung,” ujar Salman, Selasa (3/2/2026).

​Salman meluruskan simpang siur informasi di lapangan. Ia menegaskan bahwa yang dilakukan penyegelan bukanlah area TPS secara keseluruhan, melainkan hanya mesin insineratornya saja.

​“Yang disegel itu alatnya, insineratornya. Bisa dilihat di lapangan, mesinnya sudah dipasangi segel plastik dan police line (garis polisi). Ini untuk memastikan alat tersebut tidak lagi dioperasikan,” jelasnya.

​Berdasarkan data DLH, kebijakan ini berdampak luas. Dari total 19 pengolah kawasan yang menggunakan teknologi termal, 15 di antaranya masih aktif sebelum akhirnya diperintahkan untuk “mati mesin”.

​Meski diakui teknologi termal sangat cepat dalam mengurangi volume sampah, namun dampak lingkungan menjadi pertimbangan utama. Kini, Pemkot Bandung memutar haluan ke metode yang lebih ramah lingkungan.

​Sebagai pengganti, DLH Kota Bandung kini menggenjot program pengurangan sampah langsung dari sumbernya melalui program Gaslah.

​“Kami tugaskan petugas di 1.596 RW untuk melakukan pemilahan dan pengolahan sampah, terutama organik. Targetnya, setiap RW minimal bisa menghasilkan produk olahan 25 kilogram per hari,” tutur Salman.

​Tak hanya mengandalkan petugas di lapangan, Salman juga mengimbau warga Kota Bandung untuk mulai mengubah pola pikir dalam memproduksi sampah. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada pemilahan di tingkat rumah tangga.

​“Harapan kami, masyarakat lebih bijak. Sampah organik diolah mandiri lewat home composting, yang anorganik setor ke bank sampah. Jadi, yang dibuang ke TPS itu hanya residu yang volumenya sudah sangat kecil,” pungkasnya