KAPOL.ID –
Sebuah penelitian pernah dilakukan oleh organisasi pendidikan dan ilmu pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) pada tahun 2012, menunjukan bahwa minat baca masyarakat Indonesia terbilang rendah.
Hasil survey tersebut mengatakan minat baca orang Indonesia hanya 0,001%, artinya dari 1000 orang hanya 1 orang Indonesia yang memiliki minat membaca.
Penelitian itu dibahas pada kegiatan Focus Grup Discussion (FGD) daring, yang dinakhodai oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta yang berkolaborasi dengan JARI Foundation dan Yayasan REC Indonesia, pada Jumat dan Sabtu 11-12 Desember 2020.
Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca, Dispusip DKI Jakarta Suryanto mengatakan jika literasi adalah suatu kemampuan untuk memahami sesuatu.
“Kita bisa mengambil dari yang tersirat dan tersurat,” tuturnya.
Penelitan baru yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2019 silam, juga mengatakan budaya membaca di Indonesia masih sangat rendah, dengan indeks 37,32%.
Berangkat dari kegelisahan hasil penelitian tersebut, Dispusip membuat banyak program demi mendukung terciptanya ekosistem budaya membaca.
Satu contohnya tantangan #7haribaca di transportasi umum dan sempat ramai di jagat maya.
Senada dengan itu General Manager REC Indonesia Devi Nur Cahaya mengatakan REC Indonesia ingin berperan sebagai fasilitator dan mediator bagi komunitas atau organisasi yang bergerak di bidang literasi.
“Kebanyakan dari mereka masih bergerak-sendiri,” katanya.
Lebih jauh lagi, Immarita Dinar, Project Manager di REC Indonesia juga ingin program-program REC Indonesia mampu untuk menjawab permasalahan yang ada.
Mulai dari Temukarya Peminat Baca (TPB) yang dikonsep seperti TED Talks, hingga program CariBuku dan Relawan Muda. Tujuannya yaitu untuk membangun lingkaran produktif komunitas literasi.
Salah satu peserta FGD daring, Kunang Dana, menyampaikan bahwa apa yang dipaparkan oleh narasumber merupakan fakta di lapangan.
“Memang betul bahwa banyak keluarga yang belum membudayakan membaca di rumah mereka.”
“Sebagai seorang fasilitator pemberdayaan masyarakat, saya merasakan sendiri dampak dari apa yang kita baca, betul-betul mampu menjadi sumber informasi baru bagi masyarakat yang kita ajak bicara,” tambahnya.
Wakil Ketua JARI Foundation, Teuku Azmy berharap para peserta dapat saling belajar di forum yang dihadiri 186 aktifis.
“Kami dukung, dan kami tidak bisa melakukan ini sendiri, karena ini masalah bangsa kita bersama.”
“Maka kami mendorong seluruh peserta untuk terus membuka diri, memperluas relasi dan menyambut kolaborasi,” pungkasnya.***






