KAPOL.id – Jagat maya, khususnya platform TikTok, mendadak riuh oleh sebuah unggahan video “Laporan Terbuka” yang dilayangkan tokoh karismatik Jawa Barat, Eep Hidayat.
Pria yang akrab disapa Mang Eep ini tak lagi menggunakan bahasa diplomasi santun. Dengan nada bicara yang bergetar antara amarah dan kekecewaan, ia membidik langsung sang nakhoda besar Partai NasDem, Surya Paloh.
Persoalannya bukan sekadar kalah atau menang dalam kontestasi politik, melainkan sebuah luka menganga akibat dugaan pengkhianatan di internal rumah sendiri.
Mang Eep secara gamblang mempertanyakan di mana letak “Restorasi Indonesia” slogan sakral yang selama ini digaungkan NasDem sebagai gerakan perubahan. Baginya, janji restorasi itu kini terasa hambar, bahkan paradoks.
“Bagaimana mungkin restorasi diteriakkan ke seluruh penjuru negeri, sementara di dalam rumah sendiri, keadilan bagi kader yang terzolimi justru menjadi barang langka? Mencari keadilan di NasDem hari ini ibarat mencari sebatang jarum di tumpukan jerami,” ungkap Mang Eep dalam narasi yang menyentuh ribuan netizen.
Kemarahan ini bukanlah tanpa dasar yang kuat. Kasus ini berakar pada sengkarut Pileg 2024 di Dapil Jabar IX (Subang, Majalengka, Sumedang). Mang Eep menduga kuat adanya praktik “perampokan” suara secara sistematis yang dilakukan oleh lawan politik di internal partainya sendiri.
Kronologi kasus ini sebenarnya telah mencapai babak krusial di ranah hukum etik. Berkat kegigihan Mang Eep, Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) telah menjatuhkan sanksi berat berupa pemecatan terhadap Ketua KPU Jawa Barat. Putusan tersebut menjadi bukti otentik bahwa memang terjadi “permainan kotor” dalam proses rekapitulasi suara yang merugikan Mang Eep.
Namun, di sinilah letak ironinya. Meski penyelenggara pemilu sudah dinyatakan bersalah dan dipecat, Partai NasDem tempat Mang Eep bernaung justru terkesan membisu. Tidak ada tindakan tegas terhadap oknum kader yang diduga menikmati “suara jarahan” tersebut.
Dalam pesan terbukanya, Mang Eep memberikan peringatan yang sangat filosofis namun mematikan kepada Surya Paloh. Ia mengingatkan bahwa sejarah keruntuhan partai-partai besar di dunia jarang sekali disebabkan oleh serangan musuh dari luar.
“Hati-hati, Pak Surya Paloh. Keruntuhan partai besar bukan karena lawan politik yang perkasa, melainkan karena ulah oknum-oknum di dalam tubuh partai itu sendiri yang merusak tatanan dari dalam,” tegasnya.
Pernyataan ini seolah menjadi alarm bagi NasDem. Jika praktik “kanibalisme politik” antar-kader dibiarkan tanpa sanksi, maka kepercayaan akar rumput akan menguap. Mang Eep memposisikan dirinya sebagai “semut yang diinjak” simbol rakyat kecil atau kader daerah yang mungkin terlihat remeh, namun jika terus ditekan, akan memberikan perlawanan yang mampu meruntuhkan pilar-pilar kekuasaan.
Publik kini menunggu, Apakah Surya Paloh akan mendengar “jeritan” dari basis massa di Jawa Barat ini? Ataukah NasDem akan membiarkan narasi Restorasi mereka terkubur oleh tindakan oknum yang lebih mementingkan kemenangan pragmatis ketimbang etika politik?
Bagi Mang Eep, perjuangan ini bukan lagi soal kursi di Senayan, melainkan soal menjaga marwah kebenaran. Karena pada akhirnya, sebuah partai politik bukan hanya soal kumpulan angka di kertas suara, melainkan soal integritas yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan rakyat.(Teguh)***












