OPINI

SEMBADA DAN GUDANG ILMU PENGETAHUAN

×

SEMBADA DAN GUDANG ILMU PENGETAHUAN

Sebarkan artikel ini

Karya: Nia Niatti.S.Pd / Novi Enur Hasanah.S.Pd)

(Tim literasi)

Bagian I: Bocah di kaki Gunung Tampomas

Di bawah bayang-bayang Gunung Tampomas yang megah, hiduplah seorang bocah bernama Sembada. Di usianya yang baru menginjak tujuh tahun, ia telah dipaksa keadaan untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Tanpa ayah, tanpa ibu—ia sebatang kara.

Namun, kesunyian hidupnya ia isi dengan gairah yang luar biasa: membaca. Baginya, setiap lembar kertas adalah jendela, dan setiap kata adalah jalan menuju cahaya. Sembada bukan sekadar membaca; ia melahap ilmu dengan rasa lapar seorang pengembara, memupuk mimpi untuk menjadi pelita bagi nusa, bangsa, dan agamanya.

*Bagian II: Pertemuan di Ambang Hutan*

Suatu senja, langkah kaki Sembada membawanya terlalu jauh ke pinggir hutan demi mencari lembaran ilmu baru. Langit berubah kelabu, lalu pekat. Sembada tersesat. Di tengah kepungan pepohonan, ia menemukan sebuah gudang tua yang tampak rapuh dimakan zaman.

Di dalamnya, Sembada terkesima. Bukan debu yang ia lihat, melainkan ribuan buku yang berjejer rapi. Dengan hati riang, ia membenamkan diri dalam aksara hingga rasa lelah memaksanya terlelap di antara aroma kertas tua.

“Nak, bangunlah!”

Sebuah suara serak membangunkan tidurnya. Sembada tersentak, matanya mencari-cari di dalam remang. “Siapa kau? Mengapa kau ada di sini?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Jangan takut, anak muda. Aku Kakek Rimbana,” jawab sesosok pria tua yang muncul dari balik bayang-bayang. Tatapannya teduh, menyiratkan kearifan yang dalam. “Aku adalah penjaga gudang ilmu ini. Hanya mereka yang berhati tulus yang bisa melangkah masuk ke sini. Apakah kau bersedia menimba ilmu di tempat ini?”

“Tentu, Kek! Aku sangat ingin belajar,” jawab Sembada tanpa ragu.

*Bagian III: Pengabdian dan Ujian*

Tahun demi tahun berlalu. Sembada tumbuh besar di dalam gudang tua itu. Ia bukan lagi bocah kecil yang hilang, melainkan pemuda yang tampan, cerdas, dan bijaksana. Seluruh isi gudang telah menjadi bagian dari jiwanya.

“Sembada,” ujar Kakek Rimbana suatu hari. “Waktumu di sini telah usai. Pergilah dan amalkan ilmumu kepada dunia. Terimalah kotak kayu ini; jika kelak kau menemui jalan buntu yang tak terpecahkan, bukalah.”

Sembada pun melangkah keluar, mengembara dari satu kota ke kota lain. Ia mengajarkan cara bersujud kepada Tuhan, cara mengolah tanah, hingga seni berdagang. Di mana pun Sembada berpijak, kemajuan mekar seperti bunga di musim semi. Namanya harum, dicintai rakyat karena kesantunannya.

*Bagian IV: Iri Hati sang Raja*

Kabar tentang kehebatan Sembada akhirnya sampai ke telinga sang Raja. Namun, bukannya rasa syukur, hati Sang Raja justru dipenuhi duri iri hati. Ia merasa takhta dan kehormatannya terancam oleh rasa hormat rakyat kepada sang pemuda.

“Tangkap Sembada! Masukkan dia ke penjara paling gelap!” perintah Raja penuh murka.

Sembada hanya bisa tertegun saat tangan-tangan kasar prajurit menyeretnya. “Apa salahku?” tanyanya getir. Namun, tak ada jawaban selain denting kunci jeruji besi yang mengunci kebebasannya.

*Bagian V: Kota Kayu dan Kesembuhan*

Takdir berkata lain. Tak lama setelah Sembada dipenjara, Sang Raja jatuh sakit. Penyakitnya aneh, kulitnya pucat, dan napasnya berat. Tabib-tabib terbaik di istana angkat tangan; tak ada ramuan yang mampu mengusir lara sang penguasa.

Dalam keputusasaan, seorang prajurit teringat akan pemuda di penjara. “Sembada, jika benar kau memiliki ilmu seluas samudera, sembuhkanlah Raja! Jika gagal, nyawamu adalah taruhannya,” ancam sang prajurit.

Sembada teringat pesan kakek tua. Ia membuka kotak kayu pemberian Kakek Rimbana. Di dalamnya, terselip sebuah kitab kuno tentang pengobatan. Ia mempelajarinya dengan teliti, meramu dedaunan dan akar-akaran dengan presisi yang ia pelajari selama bertahun-tahun.

Atas izin Yang Mahakuasa, ramuan itu bekerja. Cahaya kembali ke wajah Sang Raja. Penyakit yang semula mustahil disembuhkan, perlahan sirna di tangan Sembada.

*Bagian VI: Warisan Abadi*

Sang Raja tertunduk malu. Air mata penyesalan jatuh di hadapan Sembada. “Maafkan aku, anak muda. Aku telah membalas kebaikanmu dengan kejahatan.”

Sembada, dengan kebesaran hati seorang bijak, hanya tersenyum dan memaafkan. Karena kebijaksanaannya, saat usia Sang Raja telah senja, takhta kerajaan pun diserahkan kepada Sembada.

Di bawah kepemimpinan Raja Sembada, kerajaan mencapai puncak kejayaannya. Ia memerintah dengan adil, mengutamakan ilmu di atas segalanya. Sebagai bentuk penghormatan, ia merenovasi gudang tua tempatnya belajar dahulu menjadi sebuah perpustakaan megah.

Perpustakaan itu ia beri nama “RIMBANA”. Sebuah monumen abadi untuk mengenang sang kakek tua yang telah membukakan pintu dunia baginya melalui lembaran-lembaran buku.***