KAPOL.ID – Sebuah babak baru dalam pengelolaan amanah rakyat dimulai. Pihak pengelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Wakil Ketua BGN, Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya, baru saja menerbitkan instruksi krusial yang mewajibkan seluruh Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) untuk tampil lebih terbuka dan berani di hadapan publik.
Bukan sekadar membagikan piring makanan, kini setiap unit pelayanan dituntut untuk menanggalkan eksklusivitas operasionalnya.
Melalui kebijakan terbaru, SPPG diwajibkan untuk mencantumkan harga di atas standar pagu MBG secara eksplisit.
Langkah ini diambil agar setiap rupiah yang dikonversi menjadi kalori dapat dipertanggungjawabkan langsung di mata masyarakat.
Kebijakan ini tidak hanya berhenti pada angka di atas kertas. Terdapat dua poin utama yang menjadi motor penggerak transformasi ini:
Dengan mencantumkan harga makanan secara terbuka, masyarakat diposisikan sebagai “hakim” yang menilai kelayakan.
Kesesuaian antara nilai nominal dengan kualitas gizi di atas piring kini berada di bawah pengawasan lensa publik.
Sony menegaskan bahwa, media sosial bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban. Setiap SPPG wajib memiliki etalase digital sebagai bentuk pelaporan real-time.
Ini adalah upaya menjemput bola, di mana transparansi tidak lagi menunggu ditanya, melainkan hadir di layar gawai setiap warga.
“Transparansi bukan sekadar angka di laporan tahunan, melainkan kejujuran yang tersaji di atas meja makan. Kita ingin setiap orang tua yakin bahwa gizi yang diterima anak-anak mereka selaras dengan amanah anggaran yang diberikan.” tegas Sony di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Lebih lanjut Sony mengatakan,strategi ini secara elegan mengubah paradigma program bantuan. Masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai penerima pasif, melainkan mitra pengawas yang aktif.
Dengan adanya perbandingan harga dan wujud fisik makanan yang dapat diakses siapa saja, ruang untuk deviasi anggaran menjadi semakin sempit.
Langkah berani ini diharapkan mampu menciptakan kompetisi positif antar Satuan Pelayanan untuk memberikan yang terbaik, sekaligus memastikan bahwa cita-cita besar mencetak generasi emas tidak terhambat oleh tata kelola yang tertutup. ***









