Oleh : Novi Enur Hasanah.S.Pd (Guru SMPN 1 Conggeang)
KAPOL.ID – Penyampaian materi di kelas ketika bulan Ramadhan memang butuh strategi khusus. Tantangannya sebagai guru bukan cuma rasa lapar atau haus, tapi juga penurunan energi (low battery mode) yang dialami siswa.
Bagaimana agar suasana kelas tetap hidup dan edukatif, ada hal yang dapat kita bagikan untuk memantik diskusi menarik di kelas.
*Rebranding Ramadhan: “The Mental Toughness Lab
Alih-alih melihat
Ramadhan sebagai beban yang bikin lemas, mari kita ajak siswa melihatnya sebagai pelatihan mental tingkat tinggi.
Puasa bukan alasan untuk menurunkan standar akademik, melainkan cara melatih grit (keteguhan hati). Jika kita bisa fokus belajar saat lapar, kita akan jauh lebih tangguh saat kondisi normal.
*Mana yang lebih sulit
Ngerjain soal Matematika saat haus, atau nahan emosi saat dikatain teman? Keduanya butuh otot mental yang sama.”
*Memanusiakan Pendidikan lewat Empati Radikal
Ramadhan adalah momen terbaik untuk mempraktekkan ilmu sosial secara nyata. Pendidikan bukan cuma soal nilai di rapor, tapi soal seberapa peka kita terhadap sekitar.
Puasa adalah “simulasi” kemiskinan agar teori-teori tentang keadilan sosial di buku teks menjadi perasaan yang nyata di hati.
“Kalau kita merasa lemas seharian, bayangkan orang yang merasakannya sepanjang tahun tanpa kepastian buka puasa”.
*Deep Work & Manajemen Energi
Gunakan kesempatan ini untuk mengajarkan teknik produktivitas yang berbeda. Saat energi fisik terbatas, kita dipaksa untuk bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras.
Ini adalah waktu terbaik untuk belajar Deep Work – fokus penuh pada satu tugas penting tanpa gangguan, karena kita tidak punya energi untuk multitasking yang sia-sia.
“Jam berapa ‘golden hour’ kalian selama puasa? Apakah setelah Subuh atau menjelang berbuka? Yuk, atur jadwal belajar berdasarkan sisa energi kita.”
*Puasa Digital: Detoks untuk Otak
Ramadhan sering disebut bulan menahan diri. Mengapa tidak memperluas maknanya? Menahan lapar itu bagus, tapi menahan diri dari doomscrolling (main medsos berlebihan) itu luar biasa.
Pendidikan di bulan Ramadhan seharusnya mencakup “Diet Digital” agar fokus otak kembali tajam. “Sanggup nggak kita puasa medsos dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore? Apa dampaknya ke konsentrasi belajar kita?”
Penyampaian dikelas kita menggunakan Humor, misalnya Akui kalau kamu juga merasa ngantuk atau haus. Kejujuran guru membangun koneksi dengan siswa.
Dapat juga kita menggunakan metode Interaktif dengan kuis singkat atau game ringan yang tidak butuh banyak fisik agar mereka tetap terjaga.
Gunakan analogi baterai HP yang hampir habis tapi harus menjalankan aplikasi berat.
Jadikan Ramadhan sebagai momen untuk membuktikan bahwa intelegensi tidak hanya ada di otak, tapi juga di pengendalian diri.***






