BIROKRASI

Sumbang Produksi Susu Nasional, Pemkab Bandung Barat Ingin Terus Genjot Produksi Lokal

×

Sumbang Produksi Susu Nasional, Pemkab Bandung Barat Ingin Terus Genjot Produksi Lokal

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID — Jawa Barat termasuk provinsi penyumbang terbesar nasional dimana Jabar menyumbang sekitar 298.000 ton per tahun, atau 30% dari produksi nasional.

Dan Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjadi salah satu daerah penghasil susu terbesar di Jawa Barat (Jabar).

Kondisi itu juga, membuat Bandung Barat memiliki industri peternakan yang maju dan memberikan kontribusi besar bagi perekonomian masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, produksi susu di Bandung Barat mencapai 145 ton per hari.

Data itu dihimpun dari tiga koperasi yakni Koperasi Peternak Susu Bandung Utara (KPSBU) Lembang, Koperasi Unit Desa (KUD) Puspa Mekar Parongpong dan KUD Sarwa Mukti Cisarua serta sejumlah pengepul susu lainnya.

“Kita ini sekarang terbesar se-Jawa Barat untuk produsen susu masih berimbang dengan Kabupaten Bandung. Produksi kita itu 32 persen mendukung produksi di Jawa Barat,” ungkap Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan KBB, Wiwin Aprianti.

Produksi susu itu, didapatkan dari sekitar 21.865 ekor sapi perah yang tersentralisir di wilayah utara.

Yakni, Kecamatan Cisarua, Kecamatan Parongpong dan Kecamatan Lembang. Hasilnya dipasok kepada industri-industri pengolahan susu. “Susunya masuk ke industri olahan susu, jadi tetap harus kita tingkatkan,” kata Wiwin.

Namun, capaian ini tidak membuat Dinas Perikanan dan Peternakan KBB puas.

Dinas Perikanan dan Peternakan KBB ingin meningkatkan produksi susu asal Bandung Barat, salah satunya dengan melakukan pembinaan terhadap peternak hingga pemberian vaksinasi.

Dinas Perikanan dan Peternakan KBB juga ingin mengembankan peternakan sapi di daerah selatan Kabupaten Bandung Barat, seperti di daerah Gununghalu.

“Tahun kemarin tim konsultan meneliti cocok tidak di sana, bukan hanya soal hidup tidaknya sapi tapi bagaimana masyarakat di sana, mau enggak. Kemudian dampak sosial,” Wiwin menjelaskan.

Berdasarkan hasil kajian, wilayah selatan khususnya Gununghalu cocok untuk dijadikan lokasi pengembangan ternak sapi perah.

Bukan hanya soal lingkungan dan alam, tapi dari sisi akses pun cukup mendukung karena jalannya sudah bagus. “Kan sapi prinsipnya kalau ada kebun teh hidup di sana.

Di sana juga sudah ada UPT kita ada di Gununghalu. Dan sekarang sudah ada beberapa kelompok yang mau mulai,” katanya.

Wiwin mengatakan, peternakan sapi perah di wilayah selatan akan dibuat lebih ramah lingkungan dimana seluruh limbahnya harus diolah. Hal itu dilakukan agar nantinya limbah kotoran hewan atau kohe itu tidak mencemari lingkungan.

“Konsepnya mininal kotorannya diolah kita wajibkan,” lanjutnya.

Wiwin menjelaskan, pengembangan ternak sapi perah ini bukan hanya sebatas upaya untuk meningkatkan produksi susu.

Tapi juga untuk mengembangkan sirkulasi perekonomian di wilayah selatan. Terlebih Bandung Barat selama ini jadi salah satu produsen susu terbesar di Jawa Barat.

“Kita lebih mengembangkan sirkulasi ekonomi di sana. Produksi sudah berlebih,” Wiwin menutup. ***