BISNIS

Tancap Gas, MyRepublic Incar 3,5 Juta Pelanggan Hingga Akhir 2026

×

Tancap Gas, MyRepublic Incar 3,5 Juta Pelanggan Hingga Akhir 2026

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Urusan pemerataan akses digital di Indonesia bukan sekadar soal gaya-gayaan teknologi. Lebih dari itu, ini adalah soal strategi yang tepat agar seluruh lapisan masyarakat bisa menikmati internet cepat tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

​Hal itu terungkap dalam seminar edukasi yang digelar Institut Teknologi Bandung (ITB) bertajuk “FTTH, FWA & Mobile Broadband: Strategi Manakah yang Terbaik untuk Mempercepat Pemerataan Akses Digital Indonesia”, Selasa (7/4/2026).

​Hadir sebagai narasumber, Chief Technology Officer (CTO) MyRepublic Indonesia, Hendra Gunawan, membedah bagaimana strategi industri menghadapi tantangan digitalisasi saat ini. Menurutnya, tiga teknologi yang ada saat ini bukan untuk saling sikut, melainkan saling mengisi.

​”Kita melihat FTTH, FWA, dan seluler itu bukan sebagai kompetitor, tapi sebagai solusi yang saling melengkapi,” ujar Hendra di sela-sela diskusi yang juga dihadiri pihak Komdigi, ATSI, dan akademisi ITB tersebut.

​Bicara soal penetrasi, MyRepublic tidak main-main. Untuk layanan Fiber to the Home (FTTH) atau internet kabel fiber optik, mereka kini sudah merambah di 160 kota se-Indonesia.

​”Saat ini sudah ada 11 juta rumah yang ter-cover (homepassed), dan alhamdulillah pelanggan kita sudah lebih dari 2 juta. Targetnya, sampai akhir tahun 2026 ini kita kejar di angka 3,5 juta pelanggan,” ungkap Hendra optimis.

​Tak berhenti di kabel, MyRepublic juga mulai tancap gas di teknologi Fixed Wireless Access (FWA) atau internet nirkabel berbasis 5G sejak awal tahun 2026. Meski baru seumur jagung, layanan FWA ini sudah hadir di 90 kota dari total 179 kota yang menjadi komitmen perusahaan.

​Internet Murah 100 Ribu, Mungkinkah?

​Salah satu yang menjadi sorotan dalam seminar tersebut adalah soal tarif internet di Indonesia yang sering dianggap lebih mahal dibanding negara tetangga. Menjawab tantangan itu, MyRepublic meluncurkan terobosan tarif FWA yang cukup mencengangkan: Rp 100 ribu untuk kecepatan hingga 100 Mbps.

​”Ini memang cukup menantang bagi kami, tapi feasible (masuk akal) untuk dilakukan,” kata Hendra.

​Rahasianya, kata dia, terletak pada efisiensi operasional dan penggunaan teknologi 5G. Dengan teknologi 5G, satu BTS (Base Transceiver Station) memiliki kapasitas besar dan radius jangkauan hingga 1,5 km, sehingga jumlah rumah yang bisa dilayani jauh lebih banyak.

​”Kita optimalkan tiga komponen biaya terbesar, yaitu sewa tower, transmisi, dan listrik. Dengan teknologi 5G, kapasitasnya besar, jadi ongkos per pelanggan bisa kita tekan,” jelasnya.

​Menanggapi munculnya program “Internet Rakyat” dari pemerintah, MyRepublic mengaku tidak merasa terancam. Hendra menjelaskan bahwa pembagian wilayah kerja sudah diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi tumpang tindih.

​”Secara region kita berbeda area. Internet Rakyat itu fokus di Region 1 (Jawa, Maluku, Papua), sedangkan MyRepublic memenangkan tender di Region 2 dan 3. Jadi tidak saling overlap untuk bisnis FWA-nya,” tuturnya.

​Melalui kolaborasi lintas sektor ini, MyRepublic berharap visi pemerataan akses digital nasional bisa segera terwujud. Bagi mereka, internet yang andal dan terjangkau adalah hak masyarakat untuk mendukung produktivitas maupun hiburan di era digital. (Jae)