KAPOL.ID–Kepala Desa Jayamukti, Ai Segah menyebut Tolib–secara administratif–bukan bagian dari warganya. Sementara kakek 80 tahun tersebut mengaku tinggal di Desa Jayamukti hampir 40 tahun, meski berpindah-pindah kampung.
“Pindah-pindah téh karena ngontrak. Pernah pindah juga ke Mangunreja. Terakhir ngontrak sekitar satu bulan lalu, di Ceungceum,” Tolib mengaku.
Kini sosok yang baru saja menerima bantuan uang tunai sebesar Rp 5 juta dari Wakil Gubernur Jawa Barat tersebut tidak lagi mengontrak. Ia tinggal di rumah panggung ukuran 3 x 3 meter milik warga.
“Setelah habis masa kontrakan, alhamdulillah ada yang nawarin tinggal di sini. Akhirnya saya sama istri (Omah, 60 tahun) tinggal di sini,” lanjutnya.
Rumah panggung yang ditinggali Tolib dan Omah (60) kini terletak di Kampung Nanggorak Rt. 09 Rw. 005 Desa Jayamukti, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya.
Secara historis, Tolib berasal dari Kecamatan Sodonghilir. Pengembaraan mengikuti guru ngajinya menghantarkan Tolib tinggal di Desa Jayamukti. Sebelum mempersunting Omah, Tolib menikah dengan perempuan asal Sodonghilir.
Dari pernikahannya yang pertama, Tolib memiliki empat orang anak. Semua tinggal di Sodonghilir. Berdasarkan pengakuan Tolib, semua anaknya hidup dalam kondisi serba keterbatasan juga. Sehingga tidak mampu membantunya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Tolib mengandalkan “honor” ceramah di masjid-masjid sekitar tempat tinggalnya. Sekali naik mimbar, ia mendapat Rp 20.000 hingga Rp 30.000. Itupun paling satu minggu sekali.
“Kalau buat hidup berdua sama istri, itu cukup lah. Tapi kalau harus bayar kontrakan jelas tidak bisa, karena Rp 300.000 per bulan,” tambahnya.
Di luar itu, Tolib sering kali menerima kemurahan hati tetangganya, yang rido mengulurkan tangan memberi bantuan pangan. Seperti yang Aldi Guna Maulana (27) kemukakan.
“Kami, khususnya pemuda, suka mencoba membantu meringankan beban keluarga Pak Tolib. Misalnya rutin memberikan bantuan berupa beras dan sembako. Kami patungan semampunya aja,” terang Aldi.
Keprihatinan Aldi dan kawan-kawan bukan hanya karena Tolib serba kekurangan. Melainkan juga karena statusnya sebagai guru mengaji. Apalagi kondisinya sering sakit-sakitan. Pengliatannya kabur karena katarak.












