KANAL

Wamenekraf Irene Umar: Radio Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Benteng Ketahanan Nasional

×

Wamenekraf Irene Umar: Radio Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Benteng Ketahanan Nasional

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Di tengah kepungan algoritma media sosial dan derasnya arus digitalisasi, radio ternyata belum kehilangan “taringnya”. Medium komunikasi tertua ini justru tetap berdiri kokoh sebagai benteng pertahanan informasi yang paling andal bagi bangsa.

​Hal itu ditegaskan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf), Irene Umar saat menghadiri Kick-Off Radio Ekraf di Cihampelas Walk, Kota Bandung, Minggu (8/2/2026).

Langkah ini menjadi bagian dari strategi Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) untuk memperkuat ekosistem penyiaran sebagai rahim bagi tumbuhnya insan kreatif di daerah.

​Irene mengungkapkan fakta menarik: hingga saat ini tercatat sekitar 25 juta pendengar radio setia di Indonesia. Angka ini menjadi bukti autentik bahwa radio belum ditinggalkan, meski teknologi terus berubah.
​“Radio bukan hanya soal entertainment. Ia adalah bagian dari ketahanan nasional. Sejarah mencatat, kemerdekaan Indonesia tahun 1945 diumumkan lewat radio.

Bahkan hari ini, saat listrik mati atau internet bermasalah, radio tetap menjadi alat komunikasi yang paling bisa diandalkan dalam kondisi darurat,” ujar Irene tegas.

​Irene juga menyebut radio sebagai launchpad atau peluncur utama bagi lahirnya pemimpin publik dan tokoh besar nasional. Bandung pun dipilih sebagai titik awal roadshow karena sejarah panjangnya sebagai kota kreatif dengan ekosistem radio yang melegenda.

​“Kreativitas tidak boleh hanya menumpuk di Jakarta. Bandung adalah bukti nyata bagaimana komunitas kreatif dan radio bisa berkolaborasi dengan apik,” tambahnya.

​Senada dengan Wamenekraf, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang juga merupakan “orang radio”, menyebut bahwa radio di Kota Kembang bukan sekadar media siaran. Sejak era 1970-an, radio di Bandung telah bertransformasi menjadi ruang ekspresi komunitas yang melahirkan talenta hebat di bidang manajemen hingga pemasaran.

​“Radio di Bandung itu ekosistem. Dari sini tumbuh banyak karya kreatif. Namun, agar tetap relevan, radio harus melakukan konvergensi dengan platform digital tanpa kehilangan karakteristik utamanya,” ungkap Farhan.

​Farhan juga membeberkan sisi krusial radio dalam menjaga stabilitas keamanan. Ia menceritakan pengalamannya saat menangani situasi krisis di Kota Bandung pada Agustus lalu. Saat kerusuhan pecah, radio menjadi senjata utama Pemerintah Kota dan aparat untuk meredam provokasi.

​“Waktu kejadian besar bulan Agustus lalu, kami menggunakan radio sebagai platform untuk menenangkan masyarakat agar tidak terprovokasi. Radio terbukti efektif melawan disinformasi di saat krisis,” tuturnya.

​Bagi Farhan, mempertahankan frekuensi radio bukan sekadar urusan bisnis media, melainkan menjaga marwah ketahanan nasional yang resilien terhadap segala situasi. (Am)