KAPOL.ID — Sudah sejak puluhan tahun warga Kampung Talun, Desa Salebu, Kecamatan Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya; memproduksi atap daun kirai. Warga Sunda menyebutnya hateup.
Di kampung tersebut, di pinggir Jalan Raya Salawu-Garut, terpajang hateup siap pakai. Jumlahnya mencapai ribuan lembar. Masyarakat lokal memang bermata pencaharian menganyam daun kirai.
Salah seorang pengrajin atap daun kirai, Nasihin (67) mengemukakan bahwa keterampilan tersebut sudah menjadi warisan leluhurnya. Turun temurun dari generasi ke generasi. Nasihin sendiri belajar dari orangtuanya.
“Orangtua saya sejak dulu profesinya memang tukang membuat atap daun kirai. Saya sendiri sejak usia 15 tahun sudah mulai belajar membuatnya,” ujar Nasihin di rumahnya, Jumat (6/1/2023).
Selain menjadi pengrajin, Nasihin juga berperan sebagai pengepul. Ia memasarkan hasil produksi tetangga-tetangganya. Sehingga di tempatnya menjajakkan hateup, jumlahnya sangat banyak.
Untuk pasarnya sendiri bukan hanya memenuhi kebutuhan lokal. Banyak konsumen luar kota bahkan lintas provinsi belanja. Antara lain dari Bandung, Lembang, Bogor, bahkan Yogyakarta.
“Untuk pengiriman ke luar kota, minimal 200 ikat. Harganya per ikat itu Rp 50.000,” pungkas Nasihin.
Atap ini memang bukan hanya bisa digunakan untuk rumah, melainkan juga untuk bangunan rumah makan atau gazebo. Hateup bisa membuat bangunan tampak artistik atau bernilai seni.
Support KAPOL with subscribe, like, share, and comment
Youtube : https://www.youtube.com/c/kapoltv
Portal Web : https://kapol.tv/
Portal Berita : https://kapol.id/
Facebook : https://www.facebook.com/kabar.pol
Twiter : https://twitter.com/kapoltv












