KAPOL.ID — Sudah hampir lima bulan terakhir, masyarakat Kampung Mekarjaya, Desa, Kutawaringin Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya resah dengan gerombolan monyet yang berkeliaran di kampungnya. Sekali datang, jumlah monyet bisa sampai 10 ekor, bahkan lebih.
“Wah, lama-lama mah bisa jadi kampung monyet di sini mah, Pak. Asalnya dari gunung Tawilis, turun ke sini. Pokoknya sangat sulit dikendalikan,” ujar Wawan, warga sekitar, mengeluh.
Masyarakat juga kebingungan menanganinya. Di satu sisi mereka tidak mampu mengusir, di sisi lain membunuh monyet juga tidak boleh.
Berkali-kali masyarakat mencoba menggunakan anjing untuk mengusir monyet. Tapi, alih-alih kabur, monyet malah berbalik menyerang anjing.
“Sampai pernah kejadian ada anjing yang menggongong monyet, monyetnya malah yang ramai-ramai mengejar anjing, sampai kabur entah ke mana,” tambah Wawan.
Memang sejauh ini monyet-monyet tersebut belum pernah ada yang menyerang manusia. Tapi tetap saja, masyarakat merasa risih, takut jika tiba-tiba terjadi hal buruk menimpa mereka.
Yang membuat risih karena monyet itu tidak hanya bergelantungan di atas pohon, tapi turun dan berkeliaran di area permukiman. Berjalan-jalan di pekarangan rumah.
“Memang belum pernah ada yang menggigit, karena memang monyetnya juga jinak-jinak. Mereka berkeliaran, sepertinya hanya mencari makanan saja. Kalau sudah kami kasih pisang atau pepaya, bahkan nasi, mereka pada pergi lagi ke hutan,” lanjut Wawan.
Di pihak lain, Kepala Desa Kutawaringin, Syarif Hidayat memandang bahwa tidak mudah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sebab fenomenanya sudah terjadi sejak sebelum tahun 2020.
Bahkan, pada masa kampanye pemilihan Kepala Desa, Syarif sering mendapat aspirasi masyarakat agar penanggulangan monyet menjadi salah satu program prioritas.
“Memang waktu kami kampanye untuk Pilkades juga banyak muncul usulan terkait pengendalian penjarahan gerombolan monyet itu. Nah, saat terpilih sebagai kepala desa, saya sempat mengirim surat permohona bantuan penanggulangan monyet, namum hingga kini baru ada sebatas pengontrolan saja,” kata Syarif di kantornya, Selasa (11/11/2025).
Upaya Syarif bukan hanya sekali. Pihaknya sudah berkirim surat ke Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sebanayak tiga kali. Tapi sejauh ini belum pernah ada tindakan nyata.
Adapun penyebab utama atas kejadian tersebut adalah sudah terbatasnya makanan di pegunungan. Karena pada mulanya monyet hanya turun ke sekitar lereng gunung Tawilis, sampai tidak ada lagi masyarakat yang berani bercocok tanam di sana.
Sejak tidak ada sumber makanan di lereng gunung Tawilis itulah monyet semakin mendekat ke perkampungan. Padahal jarak antara gunung dan perkampungan mencapai 4 Km.
“Bahkan sudah lima atau empat bulan ini malah makin menjadi-jadi, sampai ke tengah permukiman penduduk. Pernah satu hari saya sedang berada di kantor desa, tiba-tiba datang tiga ekor monyet, dua induk satu anaknya. Saya kira monyet itu mau bikin KTP,” pungkas Syarif sambil tertawa.
Support KAPOL with subscribe, like, share, and comment
Youtube : https://www.youtube.com/c/kapoltv
Portal Web : https://kapol.tv/
Portal Berita : https://kapol.id/
Facebook : https://www.facebook.com/kabar.pol
Twiter : https://twitter.com/kapoltv






