WISATA

Wajah Baru Conggeang: Ambisi Jadikan Bendungan Cipanas Sebagai Episentrum Ekonomi Biru Jawa Barat

×

Wajah Baru Conggeang: Ambisi Jadikan Bendungan Cipanas Sebagai Episentrum Ekonomi Biru Jawa Barat

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Kehadiran Bendungan Cipanas di Kecamatan Conggeang, Sumedang, kini bukan sekadar proyek infrastruktur raksasa pemecah arus.Bendungan ini tengah dipersiapkan menjadi tumpuan harapan baru bagi denyut nadi ekonomi warga lokal.

Namun, kemegahan genangan air tersebut membawa tantangan besar: bagaimana mengonversi potensi perikanan menjadi kesejahteraan tanpa merusak ekosistem yang baru terbentuk?

Adam Hidayat, SH., tokoh pemuda sekaligus Ketua Pembina Himpunan Putra Daerah Bendungan Cipanas (HIMPUDA BC), menegaskan bahwa kunci keberhasilan transisi ini terletak pada regulasi yang presisi melalui Zonasi Aquaculture.
Benteng Pertahanan Kualitas Air.

Menurut Adam, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang memikul tanggung jawab besar untuk segera menetapkan titik koordinat pemanfaatan ruang perairan.

Tanpa zonasi yang tegas, Bendungan Cipanas berisiko terjebak dalam “lubang hitam” yang sama dengan bendungan-bendungan lain di Jawa Barat.

“Tanpa aturan, kita berisiko mengulangi kesalahan masa lalu di mana kepadatan Kolam Jaring Apung (KJA) yang tak terkendali justru menjadi bumerang. Penumpukan sisa pakan bisa mencemari air dan memicu kematian ikan secara massal,” ujar Adam kepada kapol.id

Zonasi yang terukur diyakini akan memberikan kepastian hukum bagi para investor dan petani ikan.

Dengan regulasi yang jelas, investasi dapat masuk dengan tenang sementara fungsi utama bendungan sebagai penyedia air baku tetap terjaga keberlanjutannya.

Modernisasi dan Pemberdayaan Berbasis Lingkungan

Alih-alih menerapkan pelarangan total terhadap aktivitas perikanan, Adam menawarkan konsep kolaborasi yang bermartabat.

Ia mendorong pemerintah untuk memprioritaskan kuota KJA bagi warga terdampak pembangunan bendungan. Namun, KJA yang digunakan bukan lagi model konvensional yang merusak.

“Konsepnya harus KJA Ramah Lingkungan yang dipadukan dengan manajemen modern. Pelaksanaan KJA harus 100% bio-degradable dan eco-friendly. Artinya, materialnya harus mudah terurai secara biokimia sehingga tidak menghasilkan limbah baru,” tegasnya.

Sabuk Ekonomi Hijau dan Wisata Kuliner Terapung

Visi Adam tidak berhenti di tengah perairan. Ia melihat potensi besar di daratan melalui pengembangan “Sabuk Ekonomi Hijau”.

Desa-desa di sekitar Conggeang dapat didorong menjadi sentra budidaya darat berbasis teknologi, seperti sistem Bioflok atau kolam air deras yang memanfaatkan aliran irigasi bendungan.

Integrasi ini diharapkan dapat menciptakan daya tarik wisata baru.

Mengingat aksesibilitas yang kini semakin mudah melalui Jalan Tol Cisumdawu, Conggeang berpeluang besar menjadi destinasi “Wisata Kuliner Terapung”.

“Bayangkan wisatawan datang menikmati pemandangan, lalu menyantap ikan segar dengan standar sanitasi tinggi hasil budidaya lokal. Ini adalah bentuk modernisasi perikanan yang mengedepankan kualitas daripada sekadar kuantitas,” tambah Adam.

Membangun Martabat Baru

Transformasi lahan pertanian menjadi kawasan perairan strategis menuntut cara berpikir yang lebih visioner.

Dengan zonasi yang cerdas dan transparan, Bendungan Cipanas diharapkan tidak hanya dikenal sebagai aset nasional, tetapi juga sebagai monumen keberhasilan kolaborasi antara kemajuan zaman dan kearifan lokal.

Melalui langkah ini, semua pihak diharapkan mendapat keuntungan: pemerintah meraih Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kelestarian lingkungan, pengusaha mendapat kepastian usaha, dan warga lokal mendapatkan lapangan kerja berkelanjutan.

Conggeang kini sedang bersiap menulis sejarah baru sebagai Pusat Ekonomi Biru Jawa Barat. (Teguh Safary)***